LUKA ALLEA

LUKA ALLEA

  • WpView
    Reads 348
  • WpVote
    Votes 191
  • WpPart
    Parts 10
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Apr 15, 2025
WpInfo
Fiction
Romance
Luka Allea Tidak semua luka terlihat. Tidak semua jeritan butuh suara. Di dalam rumah itu, Allea tidak hidup-ia hanya bertahan. Hari-harinya penuh batasan, langkahnya terkekang, suaranya dipadamkan. Tapi ia tahu satu hal kalau ia bukan boneka yang bisa dikendalikan selamanya. Malam itu, ia keluar. Bukan untuk lari, bukan untuk menyerah. Hanya untuk mengingatkan dirinya sendiri bahwa ia masih bisa berdiri. Bahwa ia masih punya kendali atas dirinya sendiri. "Lea bukan tawanan. Lea hanya belum menemukan cara untuk menang." "Lea capek,kenapa harus seberat ini ujiannya Tuhan",... Tapi sampai kapan ia bisa bertahan dalam bayang-bayang luka yang terus menghantuinya? Karena tak semua rantai terbuat dari besi. Dan tak semua kebebasan berarti pergi. ---
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Puing luka
  • Penuh Luka (On Going)
  • Waktu?
  • Benalu [Terbit]
  • MEMELUK LUKA [END]
  • Larasati- Napas Dari Masa Lalu

"Malam itu menjadi awal dari mimpi buruk yang tak pernah ia bayangkan." Aluna kehilangan segalanya dalam satu malam-rasa aman, harga diri, dan harapan. Ia hancur oleh luka yang tak terlihat mata, tapi mengoyak jiwanya habis-habisan. Kehamilan yang datang dari pemerkosaan membuatnya ingin menyerah. Namun dalam reruntuhan hidupnya, ada dua hal yang terus menahannya agar tetap berdiri: keluarga yang tak pernah berhenti mencintai, dan janin kecil dalam rahimnya yang menjadi alasan untuk bertahan. Sejak itu, Aluna membenci laki-laki. Ketakutannya begitu dalam, hingga setiap tatapan dan suara laki-laki bisa membuat tubuhnya gemetar. Tapi ia tidak bisa menolak kehadiran laki-laki itu-sosok yang bertanggung jawab, yang tak pernah pergi, yang terus mengirim bunga, hadiah, dan surat-surat haru berisi penyesalan serta doa. "Aku tahu aku tak bisa menghapus malam itu. Tapi setiap langkah yang kamu ambil hari ini, adalah langkah keberanian luar biasa. Kamu tidak sendirian." - A. Hari demi hari, tembok kebekuan di hati Aluna mulai retak. Bukan karena dia lupa, bukan karena dia memaafkan dengan mudah, tapi karena perlahan, ia mulai membuka diri terhadap kemungkinan: bahwa tidak semua luka harus berdarah selamanya. Akankah Aluna mampu menghadapi masa lalunya? Mampukah ia membiarkan seseorang masuk ke dalam hidupnya lagi-meski dari kejauhan? Sebuah kisah tentang luka, keberanian, dan cinta yang lahir dari kehancuran. Untukmu yang sedang berjuang: kamu tidak sendirian.

More details
WpActionLinkContent Guidelines