SERIBU LANGKAH SATU RUMAH

SERIBU LANGKAH SATU RUMAH

  • WpView
    Reads 1
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Feb 21, 2025
--- Hidup adalah perjalanan. Tapi bagaimana jika perjalanan itu perlahan menghapus jejak siapa dirimu? Anindira lahir dari darah para pejuang, tumbuh dalam rumah yang menjunjung tinggi nasionalisme. Putri sekaligus cucu seorang veteran, ia mewarisi semangat juang yang diajarkan sejak kecil—tentang cinta, bakti, dan pengorbanan untuk Ibu Pertiwi. Namun, zaman telah berubah. Perlahan, nilai-nilai yang dulu begitu sakral terkikis di hadapan pemuda-pemudi yang lupa daratan. Di tanah asing yang jauh dari rumah, Anindira menyaksikan dirinya perlahan tercerabut dari akar. Batinnya bergolak—untuk apa nasionalisme jika hanya menjadi luka yang tak lagi dihiraukan? Untuk apa mencintai negeri yang tak lagi mengenalnya? Namun, di antara kebimbangan dan pertanyaan yang meremukkan hati, satu hal terus berbisik dalam benaknya: "Apakah aku telah berkhianat pada negeri yang melahirkanku?" --- - tulisan tanga.anastasiawisanegara
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Don't Talk About Money
  • JATUH CINTA SETELAH MENIKAH
  • Mahligai Sunyi
  • A Memory to Remember
  • Angel To Raya (END)
  • 𝔼𝕊𝕋𝔸𝔽𝔼𝕋 𝕋☠️𝕏𝕀ℂ [ Re-up. New version ]
  • GEMINTANG HATIKU
  • IF YOU
  • Antara Dendam dan Cinta

Pernah ga sih? Kalian sekelas sama anak beasiswa yang ganteng banget, pinter banget, tapi juga sombong banget. Padahal dia tuh miskin banget :( Bukannya Irin judging nih, tapi pernah sekali waktu dia sekelompok sama Tama dan maksa buat kerkel di rumahnya untuk tugas akhir mata kuliah Bahasa Indonesia, dan Irin baru tahu, ternyata di Jakarta masih ada ya rumah yang base nya dari kayu tanpa di semen. Letaknya dalam gang kumuh yang bau sampahnya kemana-mana. Tapi jujurly, kalian ga bakal lihat Tama seperti lingkungannya itu, walau dia juga ikut milah sampah yang bisa di daur ulang atau bisa dijual lagi sama bapaknya, semua hal ini yang mendukung Tama mendapat beasiswa untuk berkuliah di universitas terbaik, di tempat yang sama dengan Irin, lewat jalur surat keterangan tidak mampu. Tapi Irin sangat kagum sama Tama, bukan karena wajahnya aja yang tampan, walau hidup Tama terlihat jauh lebih susah dari Irin yang turun naik Jazz ke kampus, Tama ga pernah sekalipun terlihat mengeluh, ga kaya Irin yang perasaan hidupnya ngeluh mulu, malah pinter juga masih pinteran Tama, makanya Irin suka sama Tama, kalo kata Irin sih suka aja, ga yang gimana-gimana, tapi Irin tuh jadi suka ngintilin Tama, minta sekelompok sama Tama, minta diajarin Tama, mau makan bareng Tama atau bawain bahkan beliin Tama makanan, nawarin Tama balik bareng, mau main ke rumah Tama, sampai Tama tuh jengah, dan dari situ Irin menyimpulkan Tama sombong berikut berpemikiran sempit. "Kamu bisa ga? Ga usah dekat-dekat dengan saya? Saya ga butuh belas kasihan kamu, Irin. Jangan bawain saya makanan lagi, ga perlu tawarin saya pulang bareng kamu karena saya bisa sendiri. Jangan masuk ke dunia saya karena kamu tidak cocok. Kamu tidak perlu menempatkan diri sebagai saya karena kamu tidak tahu bagaimana kehidupan saya berjalan. Tapi di luar semua itu, saya bisa menjalankan hidup saya sendiri, tanpa bantuan kamu" Tapi, prinsip Irin tetap satu sejak awal. "Kamu lihat aja, kamu bakal balik dan ngemis cinta sama aku!"

More details
WpActionLinkContent Guidelines