Story Of School Gate

Story Of School Gate

  • WpView
    Reads 101
  • WpVote
    Votes 16
  • WpPart
    Parts 7
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Mar 16, 2025
Gerbang sekolah menjadi saksi bisu, tempat di mana perasaan bersemi tanpa pernah benar-benar tumbuh. Setiap pertemuan selalu sama-hadir dalam diam, pergi tanpa pesan. Hanya sekejap sebelum lonceng pertama berbunyi, lalu kembali menjadi asing di antara riuhnya hari. Hingga suatu ketika, mereka tak lagi ada di sana. Barulah disadari, betapa setiap detik di sana ternyata lebih berarti dari yang pernah mereka kira. Cinta yang tak pernah punya kata, hanya ada di batas gerbang-dan mungkin, selamanya akan tetap di sana. --- Author membuat beberapa cerita dari berbagai pihak yang merupakan teman author sendiri. Nama, tempat, situasi, dan lainnya hanyalah rekayasa. Selamat menikmati
All Rights Reserved
#32
gate
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Erlangga
  • GERA (SUDAH TERBIT)
  • Lost In Your Song
  • LANGIT DI BALIK JENDELA
  • Benang Yang Putus, Disambung Waktu (Revisi & Hiatus)
  • ELGITA: Yang Tak Pernah Terucap (Revisi)
  • Yang hilang Tak pernah sama
  • Ex or New? [REVISI]
  • Juan [REVISI]
Erlangga

Erlang selalu berpikir bahwa cinta adalah sesuatu yang bisa ia genggam erat. Bahwa ketika dua orang saling mencintai, mereka akan tetap bertahan, apa pun yang terjadi. Tapi nyatanya, itu hanya keyakinan naif yang perlahan hancur di hadapannya. Pacarnya pergi karena dia sudah menemukan yang baru. Semua janji, semua rencana masa depan, semuanya runtuh dalam sekejap. Erlang hanya bisa menatap kepergiannya, bertanya dalam hati, "Apa aku kurang baik?" Belum juga ia berdamai dengan kehilangan itu, takdir menamparnya lebih keras. Sahabatnya, satu-satunya orang yang mengerti dia tanpa banyak bicara, pergi-bukan karena memilih, tapi karena kehidupan memutuskan demikian. Kali ini, kepergian itu benar-benar untuk selamanya. Tidak ada kesempatan untuk meminta maaf, tidak ada lagi tawa yang bisa dibagi. Ditinggalkan oleh orang yang ia cintai, kehilangan orang yang selalu ada untuknya-Erlang berpikir, mungkinkah ia memang ditakdirkan untuk sendiri? Namun, di tengah kehancurannya, ada satu orang yang tetap di sisinya. Seseorang yang tak banyak bicara, tapi selalu tahu kapan harus mendengar. Sahabat yang tidak pernah menjanjikan apa pun, tapi selalu ada tanpa diminta. Dan dari sana, tanpa Erlang sadari, luka yang ia pikir tak akan sembuh perlahan mulai menemukan cahaya. Cinta yang ia kira sudah mati, ternyata masih punya kesempatan untuk hidup kembali. Apakah Erlang siap membuka hatinya lagi? Atau masa lalu akan terus menghantuinya?

More details
WpActionLinkContent Guidelines