Bayangannya menari di tepian cakrawala, seolah menantang realitas untuk mengakuinya. Setiap langkah yang diambil, ia menjauh-seperti fatamorgana yang mengundang, namun tak pernah dapat digenggam.
Di persimpangan antara kenyataan dan ilusi, aku mengejarnya. Apakah dia nyata, atau hanya bayangan yang dirajut oleh pikiranku sendiri? Seperti Māyā, fatamorgana dari semesta, dia hadir dalam kelam, berbisik di antara desir angin, menggoda kepercayaanku akan dunia yang kukenal.
Hatiku adalah Chakra, roda yang berputar dalam ketidakpastian, menginginkannya, merindukannya, tetapi semakin aku mendekat, semakin ia terurai seperti pasir di sela jemari. Apakah dia wujud atau hanya Smriti, kenangan samar yang dipahat oleh waktu?
Aku terus berlari dalam lorong-lorong Samsara, mengulang pencarian tanpa akhir. Jika dia hanya ilusi, mengapa jantungku berdegup seakan mengenalnya? Jika dia nyata, mengapa dunia seolah menolak keberadaannya?
Mengejar dia adalah mengejar bayanganku sendiri-sebuah misteri yang hanya bisa dipecahkan oleh keberanian untuk bertanya: apakah yang kurasakan ini nyata, atau hanya mimpi yang tak ingin terbangun?
Apa yang ada di pikiran kalian ketika terbesit kata "tingkat akhir SMA"? Bukankah semacam bersenang-senang dengan teman, belajar untuk ujian akhir, dan berbagai macam kegiatan sekolah yang tak ada habisnya? Juga perasaan untuk bersenang-senang selayaknya remaja lah yang terpikirkan.
Awalnya memang seperti itu, tapi seiring berjalannya waktu, kesenangan Aleon harus berhenti ketika ia mendapati dirinya tengah membawa kehidupan lain didalam tubuhnya. Hancur, itu yang pertama kali ia rasakan. Tak pernah terbayang baginya untuk menjauhi semua kegiatan anak muda hanya untuk mengurusi kesalahan yang terjadi.
"Brengsek! Menggunakan tubuh gue tanpa memikirkan perasaaan orang tersebut!"
"Terus? Lo mau gue gimana?"
Warn:
Typo tolong di maklumi, akan di revisi kalau ada waktu senggang
Writing: 06-05-23
Start: 01-07-24
Finish: