Diam yang Berisik, Bertahan Sendiri

Diam yang Berisik, Bertahan Sendiri

  • WpView
    Reads 0
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Feb 24, 2025
Aku pernah berpikir bahwa diam adalah jawaban terbaik. Aku memilih diam, bukan karena aku tak punya suara, tapi karena setiap kali aku bicara, aku takut hal-hal akan semakin buruk. Aku diam, meski di dalam kepala, ada suara-suara yang terus berisik. Mengulang-ulang pertanyaan yang sama: *Kenapa aku tak pernah didengar? Kenapa setiap keluhanku dianggap angin lalu?* Aku ingin bercerita, sekadar mengeluarkan apa yang mengganjal di hati. Tentang perasaan tak dihargai, tentang luka-luka kecil yang aku simpan sendiri. Tapi setiap kata yang hendak keluar selalu kutelan kembali, karena aku tahu, ujung-ujungnya hanya akan berakhir menjadi pertengkaran. Aku memilih diam. Namun, diamku bukanlah ketenangan. Diamku berisik. Di dalam hati, aku menjerit. Aku lelah memendam, tapi aku juga lelah bertengkar. Aku hanya ingin didengar, dimengerti, tanpa harus merasa bersalah karena memiliki perasaan. Dan aku bertahan. Aku bertahan bukan karena aku kuat, tapi karena aku tak punya pilihan lain. Aku memikirkan anak-anakku, betapa mereka berhak tumbuh di lingkungan yang hangat, di rumah yang penuh kasih sayang. Aku takut jika aku menyerah, mereka akan kehilangan dua sosok yang seharusnya menjadi tempat mereka berlindung. Kadang, aku bertanya pada diriku sendiri: *Sampai kapan aku bisa bertahan?* Aku merasa seperti satu-satunya yang berjuang, satu-satunya yang mengupayakan agar semua terlihat baik-baik saja. Aku tersenyum di depan mereka, meski hatiku menangis dalam diam. Aku ingat satu malam, ketika pertengkaran pecah lagi. Aku duduk di sudut kamar, air mata mengalir tanpa suara. Di sampingku, suamiku sibuk dengan ponselnya, seolah aku tak ada. Aku ingin berteriak, "Aku di sini! Aku ada! Aku terluka!" Dan malam itu aku sadar, aku memang bertahan sendiri. Aku hanya ingin ada seseorang yang berkata, "Aku mengerti perasaanmu." Tapi, sepertinya itu terlalu tinggi untuk kuharapkan. Apakah kalian pernah merasa lebih kesepian justru saat ada seseorang di samping kalian?
All Rights Reserved
#269
selamat
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • ABOUT ME : Aku Ingin Istirahat
  • Halaman Hidupku
  • Eliinaa
  • Hopeless
  • Lara yang tak kunjung USAI ||•ondah•||
  • Could you be a home for me? [TAMAT]
  • Sepasang Sepatu Tanpa Arah [END]
  • Mahligai Sunyi
  • You're Here, But Not For Me

"Kamu harus mendapatkan nilai sempurna." Ucap papaku dengan suara tegas, seolah-olah aku tak punya pilihan selain menjadi sempurna di matanya. "Kamu harus selalu mengalah dengan kakakmu." Ucap mamaku tanpa ragu dan menuntut. Bagi mama, akulah yang harus mengerti kakak dan mengalah jika bertengkar dengan kakak entah kakak yang benar atau salah. "Ini semua salahmu! Andai saja aku tak memiliki adik sepertimu!" Ucap kakakku dengan mata penuh kebencian, seakan keberadaanku adalah kutukan yang merusak hidupnya. "Kakakmu itu sudah sangat menderita, jadi kamu harus mengerti dia." Ucap nenekku, seperti akulah yang membuat kakak semakin menderita. "kamu mah enak! kamu pintar dan punya orangtua kaya!! Ga ada yang kurang dari hidupmu." Ucap salah satu teman perempuanku dengan nada iri, tanpa tahu betapa sepinya hidupku. "kamu beda banget sama kakakmu ya. Kakak mu cantik banget, tapi kamu? Jelek parah." Ucap salah satu teman laki-lakiku sambil tertawa, seolah aku hanyalah lelucon menyedihkan di matanya. "Terima kasih... Kamu selalu menjadi pendengar yang baik." Ucap sahabatku dengan nada lembut, tapi entah kenapa kata-katanya terasa seperti pengingat bahwa aku hanya ada untuk mendengar, bukan untuk didengar. Lalu, kakek menatapku. Matanya teduh, penuh kasih, berbeda dari yang lain. "Apa kamu benar-benar baik-baik saja, cucuku?" Ucap kakekku, satu-satunya suara yang terdengar tulus di antara semua itu. Aku ingin menangis. Aku ingin berteriak bahwa aku tidak baik-baik saja. Aku ingin mengatakan bahwa aku lelah, bahwa aku tak tahu harus bagaimana lagi. Tapi aku tersenyum lebar pada kakekku. Aku menahan air mataku agar tak jatuh, karena aku tahu... air mata tidak akan mengubah apa pun. "Aku baik-baik saja." Ucapku dengan nada ceria yang ku paksakan, seperti biasa. • Hasil karya sendiri • bahasa baku dan non baku • maaf kalau ada kesamaan tempat, nama, dsb dalam cerita *** Happy_Reading ***

More details
WpActionLinkContent Guidelines