Story cover for Saudara Yang Lain by Senpenru
Saudara Yang Lain
  • WpView
    Reads 35
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 1
  • WpView
    Reads 35
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 1
Ongoing, First published Feb 25, 2025
AI kelihatan gigih, sedangkan manusia rapuh. Bertanding dalam keunggulan akal memang begitu. Namun, nilai adalah keunggulan lain yang dimiliki manusia ketimbang kejujuran mengungkap data.
All Rights Reserved
Table of contents
Sign up to add Saudara Yang Lain to your library and receive updates
or
#12writteninactionindonesia
Content Guidelines
You may also like
Syal Merah by FabianBadaiAntashena
5 parts Ongoing
Lihatlah manusia.... makhluk berakal, katanya, tapi berakal hanya untuk merancang kehancuran dengan cara yang lebih efisien dari iblis manapun. Mereka lahir dengan tangan kosong, namun tumbuh dengan jemari yang tak pernah cukup menggenggam. Satu takhta tak cukup, satu negeri terlalu sempit, satu nyawa tak sebanding dengan harga ambisi. Mereka mencipta Tuhan dari kaca dan bayangan, lalu menjadikannya alasan untuk menyalakan api di rumah sesamanya. Lalu, ketika tubuh hangus terbakar, mereka berkata: "Ini takdir, ini suci." Padahal semua hanya siasat licik, untuk menjarah lebih banyak, menguasai lebih dalam. Di medan perang, tidak ada musuh sejati, hanya cermin-cermin retak yang saling menuduh bayangan masing-masing sebagai setan. Manusia menanam senyum di bibir diplomasi, sementara tangannya menandatangani pengiriman peluru ke tempat di mana anak-anak belajar menyebut "ayah". Dan ketika tanah itu retak oleh ledakan, dan langit pun tak sudi menurunkan hujan, mereka berkumpul di ruang rapat ber-AC, membahas damai yang bisa dijual dengan harga saham. Oh, manusia bukan makhluk sosial- mereka makhluk serigala yang diajari mengenakan jas. Mereka berdiri di atas kuburan sambil berkata: "Semua demi kemajuan." Apa makna "maju", jika harus melangkahi mayat? Apa artinya "kebebasan", jika harus dipaksa dengan moncong senjata? Mereka mencipta kata-kata indah- "perjuangan", "nasionalisme", "pengorbanan", tapi semuanya hanya selimut untuk menutupi nafsu kekuasaan yang menjijikkan. Sejatinya, manusia mencintai kehancuran- sebab di puing-puing itu, mereka bisa membangun kerajaan atas nama harapan, padahal fondasinya dari daging dan darah. Tak ada yang suci dalam perang. Tak ada yang heroik dalam membunuh. Yang ada hanyalah manusia- yang selalu lapar, selalu haus, selalu ingin menjadi Tuhan tanpa pernah bisa menjadi manusia,.
You may also like
Slide 1 of 9
RARA : Seruni Sentuhan Magis cover
BLOOD AND OATH cover
Sisi lain dunia cover
Syal Merah cover
The Kiddos (Tamat) cover
E.Y.E.S: Fractured Destiny cover
THE ANGVILS [ON GOING]  cover
LABIRIN KOSMOS cover
12 Scientists (Indonesian Ver.) cover

RARA : Seruni Sentuhan Magis

17 parts Ongoing

Di sebuah kerajaan kuno di tanah Jawa, Rara, putri sulung seorang Adipati yang dikenal bijaksana, tanpa sengaja menemukan sebuah buku ajaib yang memberinya kekuatan magis luar biasa. Namun, kebahagiaan keluarga mereka seketika hancur ketika sang Adipati difitnah menggelapkan upeti kerajaan. Kediaman mereka disita, kehormatan keluarga tercoreng, dan semua pria dalam rumah itu, termasuk ayah dan saudara-saudara Rara, diasingkan sebagai pekerja paksa. Kini, hanya Rara dan para wanita yang tersisa di tengah kehancuran. Dengan tekad bulat, Rara berusaha mengungkap kebenaran di balik fitnah yang menimpa ayahnya. Dalam perjalanan penuh intrik, ia menghadapi ancaman dari bangsawan licik, pengkhianatan di lingkungan kerajaan, dan bahaya yang mengintai di setiap sudut. Didukung oleh kekuatan magis dari buku ajaib, Rara menggunakan kearifan, kasih sayang, dan keberanian untuk melindungi keluarganya. Namun, kekuatan itu tak hanya menjadi penyelamat, melainkan juga ujian bagi dirinya: mampukah ia menjaga keseimbangan antara kekuatan besar yang dimilikinya dan nilai-nilai kebaikan yang ia junjung? Dalam perjuangan ini, Rara bertekad untuk mengembalikan kehormatan keluarganya sekaligus membuktikan bahwa kebenaran selalu memiliki cara untuk bersinar, meski di tengah kegelapan paling pekat.