Gavendra

Gavendra

  • WpView
    Reads 138
  • WpVote
    Votes 64
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Jul 3, 2025
WpInfo
Fiction
Romance
Menjadi the most wanted boy di sekolah bukanlah pilihan, tapi di pilih. Menjadi pusat perhatian banyak orang bukanlah tujuan awal ataupun rencananya, ia hanya ingin bersekolah dengan tenang tanpa gangguan. Musik menjadi kesukaannya, headphone yang selalu berada di lehernya menjadi ciri khasnya. Perhatiannya selalu terpusat pada dua arah entah itu di sekolah,ataupun di luar sekolah. °°° "Gue butuh lo, Gav." "Sorry, De. Gue masih makan malam. Gue pesenin taxi ya?" Malam di penuhi tetesan air hujan, juga udara dingin begitu menusuk. Sambaran petir selalu terulang tanpa henti. "Lo sebenernya cowok gue, atau Nara, Gav?" "Jangan ulangi pertanyaan, yang jelas lo tau jawabannya." "Ya terus kenapa, setiap gue butuh, lo nggak ada?" Panggilnya terputus sepihak. Suara tangisnya teredam oleh hujan yang deras di tepi jalan raya kota Jakarta. °°°
All Rights Reserved
#466
ongoing
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Time
  • ATLANTIS 2: PANGLIMA
  • GHAIKA (REVISI)
  • Tsundere Maniak Susu
  • GRAVARENZO
  • I'm Not Just a Figuran
  • Transmigrasi Ziora
  • EVANESCENT (HIATUS)
  • Berandalan di Mata Sang Tuan Muda.
  • Blueprint Pelarian Villain [END]
The Time

Tiga tahun Jeselyn Ananta menghabiskan waktunya mengejar bayang-bayang tunangan nya, Leon Gamalio. Baginya, Leon adalah segalanya. Namun, malam itu mengubah segalanya. Hantaman keras sebuah truk di persimpangan jalan gelap membuat nya berada di ambang maut, dalam koma yang panjang, jiwa Jeselyn melayang masuk ke sebuah masa depan yang tak pernah ia bayangkan. Ia melihat dirinya sendiri dalam versi yang lebih dewasa, lebih rapuh, dan hancur di tengah kemewahan sebuah rumah megah. "Mau ke mana lagi?" tanya Jeselyn masa depan dengan suara serak akibat tangis. "Menemani wanita yang sedang mengandung anakku," jawab Leon dingin, tanpa sedikit pun menoleh. Kenyataan pahit itu menghujam jantung Jeselyn. Pernikahan yang ia impikan ternyata hanyalah penjara tanpa cinta.

More details
WpActionLinkContent Guidelines