Ayah, Dengan Rindu, Aku Bertumbuh

Ayah, Dengan Rindu, Aku Bertumbuh

  • WpView
    Reads 42
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 6
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Mar 9, 2025
Rindu sering kali terasa seperti lorong panjang tanpa ujung, membawa kenangan yang terus berputar dalam ingatan. Zahira merasakan itu sejak kepergian ayahnya-sosok yang selalu menjadi pelindung, teladan, dan cinta pertamanya. Di setiap sudut kehidupan, ia mencari jawaban atas pertanyaan yang terus menghantuinya: Di mana aku harus mencari obat rindu ini? Perjalanan emosionalnya membawanya pada kebersamaan dengan sahabat, nasihat bijak sang ibu, serta pelajaran kehidupan yang ia temukan dari ayat-ayat Al-Qur'an. Zahira pun mulai menyadari bahwa rindu bukan sekadar kehilangan, melainkan cara untuk mengenang dengan bahagia. Ia belajar bahwa kehadiran ayah tidak pernah benar-benar pergi, melainkan tetap hidup dalam setiap doa yang ia panjatkan dan setiap kebaikan yang ia lakukan. Melalui novel ini, pembaca diajak menyelami perjalanan Zahira-dari kesedihan menuju keikhlasan, dari kehilangan menuju pertumbuhan. Sebuah kisah tentang bagaimana cinta seorang ayah tak akan pernah pudar, dan bagaimana doa menjadi jembatan yang menghubungkan dua hati yang terpisah oleh takdir. Karena sejatinya, rindu bukan untuk ditangisi, tetapi untuk menempa hati agar lebih kuat dan bertumbuh.
All Rights Reserved
#226
kerinduan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Terlalu Baik dalam Ruang Kosong
  • Hingga Takdir Menguatkanku
  • DI BALIK DERU MESIN
  • Time Loop
  • Elira, yang Tak Pernah Dipanggil Pulang
  • ZAWIL
  • 𝓙𝓮𝓳𝓪𝓴 𝓚𝓮𝓷𝓪𝓷𝓰𝓪𝓷 𝓭𝓲 𝓤𝓳𝓾𝓷𝓰 𝓢𝓮𝓷𝓳𝓪
  • Love Story In Friendship [End]
  • SETULUS CINTA SANG MUALAF

Kalingga selalu dikenal sebagai anak baik. Senyumnya hangat, tutur katanya lembut, dan ia tak pernah menolak untuk membantu siapa pun. Tapi tak ada yang benar-benar tahu di balik semua kebaikan itu, Kalingga menyimpan luka yang dalam, kesepian yang sunyi, dan kelelahan yang tak terlihat oleh siapa pun. Ia tumbuh sebagai people pleaser, memendam keinginan dan perasaannya sendiri demi diterima, disukai, dan dianggap cukup. Namun saat tekanan batin mulai menggerogoti, tubuhnya pun ikut menyerah. Kalingga didiagnosis mengidap penyakit autoimun, dan untuk pertama kalinya, ia mulai mempertanyakan segalanya mulai dari nilai hidupnya, arti kebahagiaan, dan mengapa kebaikan yang ia beri tak pernah cukup untuk menyembuhkan dirinya sendiri. Di tengah keputusasaan, sebuah telepon datang membawa kabar yang mengguncang dunianya. Ibunya, yang selama ini dikatakan telah meninggal, ternyata masih hidup. Dari situlah perjalanan Kalingga berubah menjadi pencarian akan kebenaran, jati diri, dan cinta yang selama ini ia cari di tempat-tempat yang salah. Novel ini adalah potret tentang luka-luka yang tak terlihat, tentang keberanian untuk berhenti menyenangkan semua orang, dan tentang cinta tanpa syarat yang terkadang baru ditemukan saat segalanya runtuh. Dan saat semuanya berakhir, satu pertanyaan tetap menggantung apakah Kalingga akan menemukan dirinya yang sesungguhnya, atau justru kembali tenggelam dalam bayang-bayang orang lain?

More details
WpActionLinkContent Guidelines