Pramoedya Kala Hujan

Pramoedya Kala Hujan

  • WpView
    Dibaca 1
  • WpVote
    Vote 0
  • WpPart
    Bab 1
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Rab, Jun 18, 2025
WpInfo
Fiksi
Romansa
"Bul, nanti kalo kamu sedih nangisnya waktu hujan ya?." "Kenapa? Kok waktu hujan." "Karena nanti aku bakal hapus air mata kamu lewat rintik hujan." "Apasih, kan nanti kamu bakal datang langsung buat hapus air mata aku." "Umur ga ada yang tau Bul." Andai waktu itu aku tau, bahwa ucapanmu kala itu bukan hanya sekedar ucapan biasa. Terlalu banyak berandai karena rasa bersalahku, aku rindu. Cepatlah pulang, kembalilah pulang ke jalan yang seharusnya kamu berada Pram. Jika mungkin jalan pulang mu bukan aku, maka biarkan aku menjadi orang pertama yang tau siapa rumah pulangmu itu. Biar aku benahi rumahku, agar aku bisa menjadi rumah pulangmu. Nebula dan Pramoedya, di Bandung Lautan Api.
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • Berandalan di Mata Sang Tuan Muda.
  • The Time
  • ATLANTIS 2: PANGLIMA
  • GRAVARENZO
  • Tsundere Maniak Susu [DITERBITKAN]
  • Blueprint Pelarian Villain [END]
  • GHAIKA (REVISI)
  • Transmigrasi Ziora
  • I'm Not Just a Figuran
  • EVANESCENT (HIATUS)

​Suara decit sepatu basket yang bergesekan dengan lantai semen SMA Nusantara Bakti seolah menjadi satu-satunya melodi yang akrab di telinga Arga. Matahari Jakarta yang menyengat di jam 12 siang sama sekali tidak ia gubris. Peluh membasahi jersey birunya, mengalir melewati leher dan hilang di balik kain yang sudah basah kuyup. ​Bagi Arga, hanya di lapangan ini dunia terasa jujur. Di sini, musuhnya jelas: ring basket dan lawan main. Tidak ada teriakan ibunya yang melengking menyalahkan takdir, tidak ada bau alkohol dari ayahnya yang pulang pagi membawa tumpukan utang baru, dan tidak ada beban rasa bersalah setiap kali melihat kakaknya pulang kerja dengan wajah pucat demi membiayai sekolahnya. ​"Arga! Berhenti main atau gue laporin ke BK karena bolos jam sejarah lagi!" ​Arga menghentikan dribel bolanya. Ia menoleh, menyeka keringat dengan punggung tangan, lalu menyeringai tipis melihat pengurus OSIS yang berdiri di pinggir lapangan dengan buku catatan. ​"Laporin aja," sahut Arga santai. "Ruang BK udah kayak rumah kedua buat gue, sekalian titip salam buat Pak Hendra." ​Di sisi lain koridor sekolah yang lebih dingin karena hembusan AC, melangkah sosok yang menjadi pusat gravitasi SMA Nusantara Bakti. Adrian. ​Setiap langkahnya terukur, seragamnya rapi tanpa cela, dan wajah blasterannya yang seolah dipahat langsung oleh malaikat, selalu memasang ekspresi datar yang sulit ditembus. Sebagai Ketua OSIS sekaligus putra tunggal dari pemilik Arsenio Group, Adrian adalah definisi kesempurnaan yang nyata. Hidupnya adalah garis lurus yang tenang, penuh fasilitas, dan kasih sayang yang melimpah. ​⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖ WARNING ⚠ - b×b - BL lokal - Mpreg - ini cerita bl, awas jangan salah lapak. - banyak typo bertebaran.

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan