Musim dingin di desa kelahirannya itu seharusnya hanya menjadi liburan singkat bagi Zara Aruma sebelum ia melanjutkan hidupnya di kota. Namun, salju yang turun perlahan mempertemukannya dengan seseorang-tanpa wajah, tanpa nama-hanya lewat rangkaian surat sederhana yang di masukan di kotak pos depan rumah kosong.
Selama sekitar dua minggu, mereka berbagi cerita melalui lembaran kertas, tentang mimpi, ketakutan, dan kesepian yang selama ini mereka simpan sendiri. Sampai akhirnya, waktu memisahkan. Zara kembali ke kota, sementara surat-surat itu menjadi kenangan yang membeku di musim dingin.
Namun, takdir rupanya masih ingin bermain.
Saat Zara memasuki hari pertama di SMA barunya, ia tak menyangka akan bertemu dengan seorang anak laki-laki yang memiliki tatapan yang sama seperti ketenangan desa itu. Zylan Febryava. Mereka duduk di kelas yang sama, menjalani hari demi hari layaknya dua orang asing.
Hingga sebuah tulisan tangan dengan gambar bintang-bintang kecil di pinggir kertas perlahan membangunkan ingatan Zylan.
Tentang surat-surat musim dingin.
Tentang seseorang yang diam-diam ia rindukan.
Ini adalah cerita tentang pertemuan, kehilangan, dan bagaimana cinta pertama seringkali hadir tanpa kita sadari-dalam diam, lewat surat-surat yang perlahan mencairkan hati yang membeku.
Karena, bukankah sebagian dari kita juga pernah menyimpan rindu yang hanya bisa disampaikan lewat kata-kata di atas kertas?
Biasanya ketika kabar kehamilan seorang istri terdengar, suami akan bahagia. Memeluk istrinya penuh sayang dan rasa syukur. Namun rumah tangga Binar dan Nata tampaknya agak lain, karena setelah Binar tahu dirinya hamil, yang di dapat Nata malah ...
"Mas, ayo kita cerai!"
"Nanti kalau anak kita udah nikah."
"Kelamaan!"
"Yaudah tambah satu anak lagi."