MUKTI
  • WpView
    Reads 346
  • WpVote
    Votes 97
  • WpPart
    Parts 33
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Apr 2, 2025
Kata orang, mahasiswa adalah suara perubahan. Mereka yang berdiri di garis depan, berteriak di jalanan, menuntut keadilan yang kian memudar. Mereka yang tak takut pada pentungan aparat, gas air mata, atau stigma "pemberontak" yang dilekatkan pada mereka. Namun, tidak semua orang bisa turun ke jalan. Lara adalah salah satunya. Mahasiswi matematika yang lebih akrab dengan angka-angka dibanding orasi di tengah terik. Namun, meskipun kakinya tak melangkah ke barisan demonstran, pikirannya tak bisa diam. Ada sesuatu yang harus ia suarakan. Sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri. Ia memilih cara lain. Dengan kata-kata, Lara menciptakan senjatanya sendiri. Puisi-puisi yang ia tulis bukan sekadar untaian kalimat indah, melainkan suara perlawanan. Kritik yang tajam, menusuk ke pusat kekuasaan yang korup. Awalnya, ia hanya ingin berbicara. Tapi kata-katanya ternyata bergema lebih jauh dari yang ia bayangkan. Akunnya, Lar24merdeka, mendadak menjadi pusat perhatian. Ada yang mendukung, tetapi lebih banyak yang membenci. Para buzzer menyerangnya, melaporkan akun-akunnya hingga terhapus. Namun, itu bukan yang paling ia takuti. Yang membuatnya ragu adalah keluarganya. Orang tuanya takut. Mereka mengingat masa lalu yang kelam, tentang para aktivis yang "dihilangkan" tanpa jejak. Mereka tak ingin Lara menjadi bagian dari sejarah yang sama. Di satu sisi, Lara ingin menjadi anak yang baik, yang tidak membuat keluarganya khawatir. Tapi di sisi lain, bagaimana mungkin ia diam ketika melihat negaranya perlahan runtuh? Kini, ia berdiri di persimpangan. Haruskah ia berhenti menulis dan menjalani hidupnya seperti mahasiswa biasa? Atau terus bersuara meskipun ia tahu risikonya semakin besar? Jawaban itu belum ia temukan. Yang ia tahu, diam bukan pilihan yang mudah.
All Rights Reserved
#815
politik
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • AETERNA  | Selesai✓
  • Trasmigrasi Queenzee
  • ALEZRA (Thank you for coming)
  • The Last Birthday With You
  • PRINCESS ELARA [END]
  • Buku Ini Gak Konsisten, Tapi Ya Sudahlah
  • Kepingan Hati yang Hilang

FOLLOW AUTHOR SEBELUM BACA:-) {Cerita ini hanya FIKTIF belaka. Jika ada kesamaan nama, tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan} Blurb : Menjadi gadis dengan hidup yang begitu memilukan bukan pilihannya. Delila ingin merasakan bahagia mendapati kasih dan cinta dari orang tua serta temannya. Namun garis takdir seakan ingin menguji seberapa kuat mentalnya. Dan ya. Delila adalah manusia biasa dan dia tidak bisa. Jiwanya rapuh begitu kenyataan seakan melemparnya ke dalam jurang pekat. Kematian adalah jalan dirinya menghindar dari belenggu yang merantai dirinya dengan kepahitan. Namun takdir memang tidak akan pernah puas. Delila kembali ditakdirkan untuk mendapatkan kesempatan hidup dengan identitas baru. Dan semua bukan tanpa alasan. Delila musti mencari sosok yang mau membagi cinta dan kasih untuknya. Mau dengan suka rela mendoakan Delila agar damai di sana. Namun seperti sebuah aturan, Delila tak boleh membalas perasaan itu. ... "Ya, pokoknya kalo lo gak mau jadi bego ya jangan jatuh cinta." "Davin, mana ada orang bego karena jatuh cinta!" "Ada." "Siapa?" "Nih, orang di sebelah gue." "Davin!" Tangan Zelia dengan cepat mencubit lengan Davin membuat cowok itu mengaduh kesakitan. "Sakit, Zel. Apaan sih lo!" "Makanya jangan ngomong sembarangan. Orang gak akan bego hanya karena dia jatuh cinta, justru sebaliknya, cinta bisa buat sesorang berubah jadi lebih baik, penyayang dan lebih perhatian. Zelia pengin Davin kayak gitu." 17+ Cover by pinterest Yuk ikutan intip ceritanya!!

More details
WpActionLinkContent Guidelines