CAHAYA BUMANTARA

CAHAYA BUMANTARA

  • WpView
    Reads 44
  • WpVote
    Votes 4
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, May 12, 2025
Jatuh cinta untuk pertama kali terasa begitu indah bagi ANALA. Ada satu nama yang diam-diam ia kagumi, seseorang yang hampir mengisi hatinya dengan perasaan berbunga-bunga. Tapi kenyataan tidak seindah angan lelaki itu tak pernah benar-benar melihatnya. Saat hatinya mulai lelah berharap, datanglah seseorang yang lain. Lelaki yang terlihat lebih dewasa, penuh perhatian, dan selalu ada di saat Nayla butuh tempat bersandar. Seakan semesta memberinya kesempatan baru untuk mencintai dan dicintai. Namun, siapa sangka, dia hanya singgah sementara. Kehadirannya yang begitu manis ternyata tak ditakdirkan untuk selamanya. Karena ada seseorang lain yang sudah menunggunya di ujung jalan, di dunia yang lebih luas saat perkuliahan dimulai. Di antara rasa kagum yang tak terbalas dan cinta yang sekadar persinggahan, Nayla belajar bahwa perasaan bukanlah sesuatu yang bisa dipaksakan. Tapi, bisakah ia benar-benar melepaskan tanpa penyesalan?
All Rights Reserved
#1
jatuhcintapertama
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Erlangga
  • 𝑴𝒆𝒏𝒄𝒊𝒏𝒕𝒂𝒊𝒎𝒖, 𝑳𝒖𝒌𝒂 𝑩𝒂𝒈𝒊𝒌𝒖✓
  • If Only.. (Seandainya..) I LingOrm
  • " To Love ,To Lose "
  • Bukan Cinta Pertama
  • Masih Ada Kamu di Setiap Luka [TAMAT]
  • Collateral Hearts - LingOrm ( END )
Erlangga

Erlang selalu berpikir bahwa cinta adalah sesuatu yang bisa ia genggam erat. Bahwa ketika dua orang saling mencintai, mereka akan tetap bertahan, apa pun yang terjadi. Tapi nyatanya, itu hanya keyakinan naif yang perlahan hancur di hadapannya. Pacarnya pergi karena dia sudah menemukan yang baru. Semua janji, semua rencana masa depan, semuanya runtuh dalam sekejap. Erlang hanya bisa menatap kepergiannya, bertanya dalam hati, "Apa aku kurang baik?" Belum juga ia berdamai dengan kehilangan itu, takdir menamparnya lebih keras. Sahabatnya, satu-satunya orang yang mengerti dia tanpa banyak bicara, pergi-bukan karena memilih, tapi karena kehidupan memutuskan demikian. Kali ini, kepergian itu benar-benar untuk selamanya. Tidak ada kesempatan untuk meminta maaf, tidak ada lagi tawa yang bisa dibagi. Ditinggalkan oleh orang yang ia cintai, kehilangan orang yang selalu ada untuknya-Erlang berpikir, mungkinkah ia memang ditakdirkan untuk sendiri? Namun, di tengah kehancurannya, ada satu orang yang tetap di sisinya. Seseorang yang tak banyak bicara, tapi selalu tahu kapan harus mendengar. Sahabat yang tidak pernah menjanjikan apa pun, tapi selalu ada tanpa diminta. Dan dari sana, tanpa Erlang sadari, luka yang ia pikir tak akan sembuh perlahan mulai menemukan cahaya. Cinta yang ia kira sudah mati, ternyata masih punya kesempatan untuk hidup kembali. Apakah Erlang siap membuka hatinya lagi? Atau masa lalu akan terus menghantuinya?

More details
WpActionLinkContent Guidelines