Posesif

Posesif

  • WpView
    Reads 10
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Mar 4, 2025
Seorang wanita pegawai kantor yang mempunyai paras cantik dan aura feminim tidak sengaja bertemu pria rupawan ibarat kata sempurna saja tidak cukup untuk mendeskripsikannya.Pria itu tampak tertarik dengan nya terlihat dari pandangan nya. Pria ( CEO perusahaan tempat wanita itu bekerja dan beberapa perusahaan terbesar di dunia) Wanita ( memiliki paras cantik setiap suara keluar dari mulut nya seperti lagu yang menenangkan hati)
All Rights Reserved
#635
darkromance
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Beloved CEO : CEO Tercinta
  • the loving ARLI
  • My Partner Is CEO (Complete)
  • Takdir (imagine Pcy X You) [PROSES PENERBITAN] #wattys2019
  • Cinta Sang CEO
  • I'AM A CEO
  • My Choice
  • JEBAKAN CEO NAKAL (21+)
  • Bitter Sweet Pervert
  • The Beauty of Ruin

Completed ✅ Bagi Stella Francis, bekerja di Peters & Co. adalah tiket satu arah menuju hidup yang lebih layak, walau itu berarti harus mengenakan sepatu murah yang lecetnya tak bisa disembunyikan, menyimpan bekal dalam kotak makan anak-anak, dan tetap tersenyum lebar sambil membawa lima gelas kopi untuk rekan satu tim. Ia tahu dunia kantor tak selalu ramah, apalagi jika atasannya adalah Stefan Peters, seorang CEO yang lebih nyaman berbicara dengan spreadsheet daripada manusia. Namun Stella bukan tipe wanita dua puluh tujuh tahun yang mudah surut. Di balik sikap riangnya, ada keteguhan yang telah ia tempa, bahkan oleh Stefan yang dikenal dingin. Perlahan, celah-celah kecil terbuka. Dalam ruang-ruang diskusi larut malam dan proposal yang disusun berdua, Stefan mulai melihat sisi lain dari Stella, bukan hanya sebagai rekan kerja dan karyawati yang selalu bersinar, tetapi sebagai seorang perempuan yang hidupnya ditambal oleh keterbatasan dan tak pernah kehilangan cahaya. Keduanya berjalan di garis tipis antara profesionalisme dan sesuatu yang jauh lebih personal. Karena ternyata, yang paling sulit bukan menjaga jarak, melainkan pura-pura tak merasa apa-apa. Tapi bagaimana jika yang coba mereka hindari justru satu-satunya hal yang layak diperjuangkan?

More details
WpActionLinkContent Guidelines