HUNAN [530]

HUNAN [530]

  • WpView
    LETTURE 24
  • WpVote
    Voti 6
  • WpPart
    Parti 3
WpMetadataReadIn corso
WpMetadataNoticeUltima pubblicazione mar, mar 4, 2025
Wisatawan maupun penduduk lokal yang memiliki rasa kekeluargaan yang kuat akan nenek moyang dapat ditemukan di Tiongkok, negara yang maju dengan teknologi yang sangat baik. Banyak orang asing yang tertarik untuk mengenyam pendidikan yang baik di Negeri Tirai Bambu tersebut karena sistem pendidikannya yang luar biasa dan ketat. Apa yang akan terjadi jika Nirmala tidak sengaja bertemu dengan kakak senior-nya saat gadis itu masih berkuliah di Universitas Hunan? Lima tahun yang lalu Xu Ruohan melihatnya berada di sebuah toko buku, dan lima tahun mendatang Nirmala melihat Xu Ruohan sedang berada di toko buku yang sama. -- "Sayang, aku menunggu kamu dari tadi, kau tahu?" Xu Ruohan berkata sambil meraih kedua tangan mungil yang ada di hadapannya. Nirmala memandangi dari kejauhan, Xu Ruohan memegang erat tangan seseorang yang wajahnya tidak gadis itu kenali. "Gege, aku merindukanmu," Bisiknya.
Tutti i diritti riservati
#719
pasangan
WpChevronRight
Entra a far parte della più grande comunità di narrativa al mondoFatti consigliare le migliori storie da leggere, salva le tue preferite nella tua Biblioteca, commenta e vota per essere ancora più parte della comunità.
Illustration

Potrebbe anche piacerti

  • RIMBA MERUN
  • FALLING IN LOVE
  • Let's Get Married Inggit Kaluna!
  • [6] Menjadi Istri Gemuk yang Kejam untuk Suami Gila Setelah Menyeberang Waktu
  • PESAN UNTUK RAYAN
  • (END) Intercepting the Boyfriend When he Was Young
  • Satu Hati yang Kuberi Cinta

Di sebuah dusun terpencil, tersembunyi di jantung hutan tropis Lampung, berdiri sebuah sekolah bernama Rimba Merun. Di sanalah Bu Mar, seorang guru tua dari kota menempuh perjalanan puluhan kilometer setiap hari demi sekolah ini tak di tutup. Bersama dua guru lainnya, ia mengajar segelintir anak dusun yang miskin dan sederhana. Murid-muridnya mayoritas berasal dari keluarga tak mampu. Di dusun itu, kebanyakan orang tak berpendidikan, hidup dari buruh kelapa sawit, dan pertanian seadanya. Sekolah dianggap sia-sia. Namun, para guru tak menyerah begitu saja dalam mendobrak lingkaran setan. Lalu datanglah ancaman. Perusahaan konglomerat sawit mengklaim bahwa tanah sekolah dan hutan di sekitarnya, termasuk dusun Rimba Merun, masuk dalam wilayah konsesi mereka. Pabrik itu akan menggusur tanah mereka. Bu Mar dan guru lainnya tidak tinggal diam. Bersama murid dan sebagian warga yang mulai sadar dan berani, mereka membangun perlawanan. Namun perjuangan tidak mudah. Di tengah tekanan ekonomi, masyarakat terpecah dan merasa tak mampu karena yang mereka hadapi adalah koorporasi raksasa, sedangkan mereka, hanya orang miskin yang punya tanah dengan status warisan turun temurun. Ini adalah kisah tentang sekolah kecil di tengah hutan, tentang harapan guru-guru yang tak berhenti percaya menyalakan api pendidikan, tentang anak-anak yang tak berhenti bermimpi, dan potret masyarakat pedalaman yang bertahan hidup ditengah gempuran ekoonomi. Jika sekolah dan dusun itu hilang, bukan hanya bangunannya yang lenyap, tetapi juga seluruh mimpi mereka.

Più dettagli
WpActionLinkLinee guida sui contenuti