Pelukan Laut Untuk Aluna (ON GOING)

Pelukan Laut Untuk Aluna (ON GOING)

  • WpView
    Reads 1,008
  • WpVote
    Votes 186
  • WpPart
    Parts 10
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, May 18, 2025
Sejak kecelakaan tragis yang merenggut orang tua mereka, Aluna harus merawat kakaknya, Adipta, yang mengalami kelumpuhan dan trauma berat. Setiap hari, ia berjuang agar Adipta tetap hidup, meski di sisi lain, sang kakak sudah kehilangan harapan. Ia harus merelakan kehangatan keluarganya lenyap begitu saja. Hingga suatu hari, tubuh Aluna semakin melemah. Setelah serangkaian pemeriksaan, dokter akhirnya memberi vonis yang menghancurkan hati. Aluna mengidap kanker otak. Di segala kesusahannya ini, kedua teman dekatnya berusaha membantu Aluna untuk bertahan. Sampai kapan Aluna bisa bertahan? Akan kah Adipta juga menyerah juga?
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Sembagi Arutala
  • It's Always Been You✔️
  • INEFFABLE | Na Jaemin✔
  • ECHO IN THE FOREST ✔ [TERBIT]
  • About Heart || Noren GS
  • Sayhan Ulya Gemilang 🌙 (END)
  • Hidup | Lee Jeno [TERBIT]
  • Snow || Na Jaemin [END]
  • Guntur di kala Mentari
  • Calon Pewaris Na (Revisi)

Sembagi Arutala. Nama yang begitu indah, bukan? Nama yang terdengar seperti doa-mengandung makna harapan, cita-cita, dan sinar rembulan di malam gelap. Namun, hidup pemilik nama itu tak pernah seindah artinya. Arutala-begitulah panggilannya. Seorang anak laki-laki yang tampan, pintar, dan tampak selalu ceria. Ia pandai menyembunyikan kesedihan dengan senyuman. Tapi di balik keceriaan yang dilihat orang, tersembunyi jiwa yang rapuh. Bahkan sangat rapuh. Arutala tidak pernah mengerti, kenapa keluarganya memperlakukannya seolah ia tidak ada. Ia tidak pernah tahu alasan di balik kebencian itu-ia hanya tahu bahwa sejak kecil, ia harus belajar menerima dinginnya pelukan yang tak pernah datang, tatapan yang tak pernah mengakui keberadaannya. Setiap hari, Arutala bertanya pada dirinya sendiri, "Apa salahku?" Ini hanyalah fiksi belaka. Jangan diseriuskan. Ide murni author. Publish : 2-4-24

More details
WpActionLinkContent Guidelines