bandung jadi saksi

bandung jadi saksi

  • WpView
    Reads 10
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Mar 5, 2025
K Kabut tipis menyelimuti Braga pagi itu. Cahaya matahari yang masih malu-malu menembus celah di antara bangunan tua, membangunkan ingatan tentang masa lalu yang tak pernah benar-benar pergi. Di sudut sebuah kafe kecil, seorang lelaki menatap secangkir kopi hitam di depannya. Tangannya gemetar saat jemarinya menyentuh surat berwarna kuning gading-sebuah pesan dari masa lalu yang datang terlalu terlambat. Bab 1: Pertemuan di Sudut Kota Sinta tidak pernah menyangka bahwa langkah kakinya akan membawanya kembali ke Bandung. Kota itu telah menjadi bagian dari kenangan yang coba dikuburnya bertahun-tahun. Namun, undangan untuk menghadiri seminar di kampus lamanya memaksanya kembali menelusuri jejak yang pernah ia tinggalkan. Saat ia berjalan melewati trotoar Dago, langkahnya terhenti di depan sebuah toko buku tua. Papan nama yang mulai pudar masih bertuliskan "Ruang Kata". Dulu, ini adalah tempatnya berdiskusi tentang sastra, tentang mimpi, dan tentang cinta. Di sanalah ia pertama kali bertemu Arga. Arga, pria dengan mata penuh semangat dan ide-ide liar yang selalu membuatnya tertawa. Tapi juga, Arga yang membuatnya pergi tanpa pesan bertahun-tahun lalu. Surat yang Tak Pernah Sampai Di sebuah apartemen kecil di Ciumbuleuit, Arga menatap surat yang belum pernah ia kirimkan. Surat yang seharusnya sampai ke tangan Sinta sebelum ia pergi. Ia menuliskannya malam sebelum perpisahan mereka-malam ketika hujan turun deras dan hati mereka bergejolak. "Sinta, jika kau membaca ini, aku ingin kau tahu bahwa aku tidak pernah ingin kita berakhir seperti ini. Aku ingin mengejar mimpiku, tapi aku juga ingin tetap bersamamu. Apakah ada cara untuk memiliki keduanya?" Tapi surat itu tak pernah sampai. Dan kini, ketika takdir mempertemukan mereka kembali di Bandung, apakah masih ada kesempatan untuk memperbaiki yang telah patah? Namun, apakah pertemuan ini untuk sebuah awal yang baru atau hanya sekadar menghidupkan kembali luka lama?
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • LANGIT YANG TAK PERNAH PULANG
  • LAKSADEKA
  • Di Kota Tempat Kamu Berada
  • guru yang menyukai murid
  • Senandika : Titik Temu
  • Ini Kepemilikan

Langit yang Tak Pernah Pulang Ketika langit bukan lagi tempat bernaung, tapi tempat berpulang. Angkasa Rayendra Mahatma tidak tumbuh dalam pelukan keluarga Cemara. Di usianya yang kedelapan, ia menyaksikan rumah tangga orang tuanya runtuh. Ibunya menjadi satu-satunya alasan ia bertahan, hingga takdir kembali merenggut-di usia dua puluh, ia kehilangan satu-satunya tempat pulang. Sejak saat itu, ia berjalan sendiri. Dengan luka yang membatu, dengan hati yang tak lagi percaya. Sosok yang dingin, cuek, dan tertutup. Tapi di balik semua itu, Angkasa menyimpan ketulusan yang jarang ditemui. Ia masih suka menolong diam-diam, memotret langit senja, dan menuliskan isi kepalanya dalam baris-baris rahasia yang tak pernah dipublikasikan. Ia tak percaya cinta lagi. Bukan karena tak ingin, tapi karena pernah dikhianati oleh yang paling ia percaya. Hingga suatu hari, sebuah DM sederhana dari seorang followers di Instagram-nya menjadi awal dari sesuatu yang tidak ia sangka. Seorang perempuan bernama Alya Nismara Pradipta-dengan tanya yang polos, dan perhatian yang pelan-pelan menyusup ke dalam retakan hatinya. Mampukah Angkasa belajar percaya kembali? Atau benarkah... langit memang tak pernah benar-benar pulang?

More details
WpActionLinkContent Guidelines