EUFORIA KABUT RINDU

EUFORIA KABUT RINDU

  • WpView
    Reads 3
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Mar 4, 2025
Bagaimana bisa aku masih duduk berdiam hati Kala mendayung perahu masih lirih berdenyit mengiba rindu yang kau bangunkan ruang untukku betapa hancur batinku atas kabut tebal dalam ragamu bukan seperti yang kamu inginkan bukan atas tangisku aku tanpamu hanyalah euforia kepalsuan bintang hati yang menjajar dalam pilau gemintang tak perlu lagi ku tuliskan rindu dalam aksara elegi luka lama menjalar dalam kolerasi ikatan kekal langit yang sama selalu haru biru dalam getaran kalbu perihal cerita usai yang yang sudah terlepas ada tangis meradang yang belum ikhlas menunggu rindu sama halnya dengan duduk dalam peraduan tanpa batas makna ujian kali ini cukup dalam, hingga perpisahan menjadi derita kau ajarkan tentang diksi pilu nabastala surga hanya saja kau lupa ajarkan aku bagaimana menyembuhkan atma yang sedang berdarah-darah karena mengenalmu lebih mudah ketimbang melupa dengan pilu airmata entah dibelahan bumi mana aku harus menempatkan rindu yang masih menggebu sampai akhirnya kabutnya tak kunjung menghilang dan kamu masih tetap tanggal, menyimpan perasaan yang tak pernah selesai. Sidoarjo 4 Maret 2025
All Rights Reserved
#555
senandika
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Tepian Semu || Lilynn✅
  • Perihku Ditinggalkan
  • You're Here, But Not For Me
  • My Junior My Love ✔️
  • Ayo menepi dulu, sebentar saja.
  • Obstacles eternal love || Fresha (End)

Dia ada, tapi tidak seharusnya. "Kamu nggak pernah percaya sama sesuatu?" Tepian itu kini kugambar perlahan. Sebelah sini: manusia yang nyata, dunia yang nyata. Sebelah sana: senyummu yang dulu kusangka nyata... "Siapa lagi yang harus kupercaya!!" Sentuhan, hembusan, tatapan, pergerakan, rasa cinta, rasa sayang, semua terasa begitu nyata. "Aku nggak bakal pergi, aku bakal selalu ada buat kamu." Semua itu membuatku terjatuh, terlena, rasa ingin terus menetap. Namun, bayangmu, menghilang perlahan, bagai serpihan pasir. "kenapa... kamu- arrgghh!! Harusnya kamu pergi! hilang!" Kamu berbohong, kamu meninggalkanku. Kamu yang memaksaku percaya pada cinta, tapi kamu juga yang menghancurkan kepercayaan itu. Dan Aku, kembali sendiri. "Mas? Kenapa teriak-teriak?"

More details
WpActionLinkContent Guidelines