Lost Echoes (Gema yang Hilang)

Lost Echoes (Gema yang Hilang)

  • WpView
    Reads 14
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Mar 6, 2025
Kedua pasang mata itu kembali bertemu setelah bertahun-tahun hanya bisa saling mencari dalam gelapnya ingatan. Tatapan mereka penuh luka, seakan menyimpan sejuta cerita yang tak sempat tersampaikan. Waktu seolah berhenti di antara mereka, membiarkan rindu yang telah membusuk dalam penantian kembali bersemi dalam sekejap. Namun, di balik kebahagiaan yang seharusnya mereka rasakan, ada kesedihan yang tak terelakkan, sepuluh tahun bukanlah waktu yang singkat. Mereka berdiri terpaku, seakan tak percaya bahwa sosok yang selama ini hanya hadir dalam mimpi kini nyata di hadapan. Napas mereka tercekat, air mata menggenang, tetapi tak ada satu kata pun yang mampu terucap. Bayangan masa lalu kembali menyeruak, menghantam mereka tanpa ampun. Gema tawa yang dulu memenuhi hari-hari mereka kini terdengar bagai luka yang masih menganga. Janji-janji yang pernah mereka bisikkan dalam sunyi terasa pahit, berubah menjadi kenangan yang nyaris terkubur oleh waktu. Dan di antara semua itu, perpisahan yang dulu memisahkan mereka begitu kejam kini menjelma menjadi luka yang kembali berdarah. Dalam satu langkah yang ragu, tubuh mereka akhirnya bertaut dalam pelukan yang gemetar. Sebuah dekapan yang seharusnya terasa hangat, namun dipenuhi oleh dingin perpisahan yang terlalu lama. Tangan mereka mencengkeram erat, seolah memastikan bahwa ini bukan sekadar ilusi yang akan menghilang dalam sekejap. Tangis yang mereka tahan selama ini akhirnya pecah. Isak tertahan bergema di antara keheningan, menggantikan kata-kata yang tak sanggup mereka ucapkan. Mereka ingin marah pada takdir, pada dunia yang telah memisahkan mereka dengan kejam, tetapi semua itu tak lagi penting. Yang mereka tahu, saat ini, di detik ini, mereka kembali menemukan satu sama lain. Dan kali ini, tak akan ada lagi yang mampu merenggut kebahagiaan yang seharusnya menjadi milik mereka.
All Rights Reserved
#6
airy
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Korban silaturahmi [TAMAT]
  • Dibawah Langit Yang Retak (joongpond)
  • Candala [2]
  • AKU TAK PERCAYA CINTA, AYAH! (TAMAT)
  • Rayhan: sebelum hati berani pulih
  • Saat Janji Menjadi Luka (OnGoing)
  • 31 Months for You (Revisi)
  • dear happiness

[Selamat membaca] ◌Dalam tahap revisi◌ Angin berhembus menerpa rambut Glory, rumput dan bunga bergoyang seakan menikmati suasana tenang. "Maafkan gue yang dulu dan sekarang." Gio menatap Glory sekilas "Gue mencoba memaafkan nya." ucap Glory Semuanya hening, desiran angin menerpa rumput-rumput masih menemani mereka. "Kembalilah ke gue." Gio menggenggam tangan Glory. Namun Glory menepisnya "Sudah cukup sandiwaranya? tidak ada yang perlu di katakan lagi? Gue pulang.besok hari bahagia." Glory bangkit dan meninggalkan Gio sendiri di sana. "Gue tau ini salah gue,Glory.tapi tolong mengerti keadaan dan situasi apa yang gue hadapi, sekali aja lu ngertiin posisi gue tapi lu gak pernah. Gak pernah ngertiin gue sama sekali." Teriak Gio prustasi Glory yang belum jauh dari sana menghela napas, "Gue tau gue gak pernah ngertiin lu makannya gue memilih menjauh dari lu, biar lu mendapatkan orang yang selalau bisa mengerti situasi dan keadaan lu." Glory mengusap air matanya dan berlari pulang. Cerita seseorang yang mengorbankan segalanya demi mendapatkan cinta sejati, cinta bukan hanya sekedar kasih sayang dan takut kehilangan. Namun sebuah kata yang sangat berarti di kehidupan. saling melangkapi, memahami satu sama lain dan menerima kekurangan dan kelebihan. Tidak bersatu bukan mungkin berpisah tapi batas dan adanya jarak yang mempersulit mereka. Situasi, keadaan tidak mendukung mereka untuk bersama.

More details
WpActionLinkContent Guidelines