Story cover for natalie by celestiart
natalie
  • WpView
    Membaca 291
  • WpVote
    Vote 24
  • WpPart
    Bab 4
  • WpView
    Membaca 291
  • WpVote
    Vote 24
  • WpPart
    Bab 4
Bersambung, Awal publikasi Mar 07, 2025
Sebagai anak ketujuh, Natalie adalah "anak itu". 

Mama sudah capek melahirkan. Ia sudah lelah membesarkan bayi. Jadi, di hari Natal itu, ketika anak perempuan itu lahir, ia menamakannya dengan yang paling mudah saja. Natalie. 

Tidak seperti kakak-kakaknya, namanya hanya Natalie saja. Mama sudah teler, dan Papa sebetulnya memberikan nama akhirnya di Catatan Sipil, tetapi ketika ditemukan bahwa nama itu tidak tertera, Papa bilang nanti. 

Jadi Natalie tumbuh besar sebagai "anak itu". Sebagai "anak itu", ia tidak pernah benar-benar tahu apa artinya "itu". Ia terus mencari siapa sebenarnya dirinya. Lebih dari itu, ia mencari soal bagaimana. Soal apa. 

Lalu sesuatu terjadi di suatu malam. Natalie menangis-nangis. Ia pergi kepada Jethro Assad untuk menolongnya, untuk menebusnya, karena ia tidak mau identitas itu. 

Namun, betapa pun besarnya cowok itu, betapa pun cowok itu adalah temannya sejak masa kecilnya, ternyata Jethro Assad tidak bisa. Mungkin tidak bisa karena masalah ini sudah terlalu besar. Mungkin tidak bisa karena identitas sebenarnya tidak untuk dicari.

Atau mungkin tidak bisa karena cowok itu tidak mau.
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Daftar untuk menambahkan natalie ke perpustakaan Anda dan menerima pembaruan
atau
#737kristen
Panduan Muatan
anda mungkin juga menyukai
Jovanka dan Abang Kembar oleh LeenooYed
64 bab Bersambung
Hendra dan Narendra Dewantara terlahir dengan beban yang tak mereka mengerti. Sejak kecil, mereka harus mendengar bisikan-bisikan bahwa mereka adalah anak pembawa sial. Namun, di balik semua itu, mereka masih memiliki kasih sayang dari kedua orang tua mereka-setidaknya hingga bayi kecil itu lahir. Jovanka, adik bungsu mereka, hadir ke dunia dengan membawa perubahan besar. Kehadirannya mengubah segalanya. Orang tua mereka, Dewantara dan Cinthya, yang dulu begitu menyayangi mereka, perlahan menjauh. Semua perhatian, semua kasih sayang, semua harapan yang dulu diberikan untuk mereka, kini hanya tertuju pada satu sosok-Jovanka. Hendra dan Narendra tumbuh dengan kebencian yang tak mereka pahami. Bagi mereka, Jovanka adalah alasan mereka kehilangan orang tua. Bayi mungil itu adalah penyebab semua kehancuran. Maka, tanpa sadar, mereka ikut menjauh. Mereka membiarkan adik mereka tumbuh sendirian dalam dingin, tanpa pelukan hangat seorang kakak. Namun, waktu mengajarkan mereka banyak hal. Perlahan, kebenaran terungkap. Luka yang selama ini mereka kira milik mereka saja, ternyata juga terukir dalam diri Jovanka. Dan saat mereka menyadari itu, sudah terlambat. Adik mereka telah berjalan terlalu jauh dalam gelap, terjebak dalam luka yang tak pernah mereka lihat. Kini, di antara penyesalan dan keinginan untuk menebus segalanya, Hendra dan Narendra berjanji. Mereka tidak akan membiarkan Jovanka menghadapi semuanya sendirian lagi. Tidak peduli berapa banyak duri yang harus mereka lalui, tidak peduli seberapa terlambat mereka menyadarinya-mereka akan memastikan adik mereka tidak lagi merasa sendirian. Namun, apakah cinta dan penyesalan cukup untuk menyembuhkan luka yang telah terukir begitu dalam? Ataukah semua ini sudah terlambat? Karena tak peduli seberapa besar keinginan mereka untuk melindungi, pada akhirnya hanya ada satu pertanyaan yang harus dijawab: apakah seorang pangeran yang telah kehilangan mahkotanya masih bisa menemukan rumahnya?
The Little Angel✓ oleh Winnnn011
21 bab Bersambung
DILARANG PLAGIAT!!! ❌ Visual cerita + trailer eksklusif ada di TikTok! @windisetya11 [TAHAP REVISI] Zevano lahir dengan kelainan jantung bawaan, penyakit yang pelan-pelan mencuri kebebasannya sejak kecil. Sebagai anak bungsu dari keluarga Danadiyaksa yang terpandang, hidupnya dikelilingi kemewahan: rumah megah, sekolah elite, gadget terbaru, dan semua fasilitas yang hanya bisa diimpikan banyak orang. Tapi apa artinya semua itu, jika ia bahkan tak bisa menyentuh dunia di luar pagar rumah tanpa pengawasan? Kemana pun Zevano pergi, selalu ada bodyguard yang mengikutinya. Bahkan untuk bisa menghirup udara luar sebentar saja, sering kali harus dengan izin orang tuanya. Keluarganya terlalu takut kehilangannya, dan ketakutan itu tumbuh jadi batasan yang perlahan membuat Zevano merasa... terkekang. Namun di balik citra keluarga harmonis dan sempurna, Zevano mulai mencium keganjilan. Ancaman misterius datang dari luar, tapi yang lebih mengejutkan adalah rahasia besar yang perlahan terkuak dari dalam keluarganya sendiri. Kedua kakaknya menyimpan sisi lain yang tak pernah ia tahu, dan orang tuanya... ternyata menyembunyikan sesuatu yang bisa mengguncang hidup Zevano sepenuhnya. Ketika rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman berubah menjadi sumber ketakutannya, Zevano mulai bertanya-tanya: siapa sebenarnya yang bisa ia percaya? Dan lebih penting lagi, mampukah ia bertahan saat kenyataan mulai menghancurkan semua harapannya? Di balik tubuhnya yang lemah, tersembunyi hati yang begitu kuat dan lembut, yaitu hati seorang malaikat kecil. Ia tumbuh dengan kasih sayang, tapi juga luka yang tak terlihat. Dia pemaaf, penyayang, dan selalu berusaha mengerti meski dunia sering tak berpihak padanya. Dia adalah "The Little Angel", bukan karena dia memiliki sayap, tapi karena hatinya yang tak pernah berhenti berharap dan mencintai, bahkan saat rasa sakit datang silih berganti.
anda mungkin juga menyukai
Slide 1 of 10
Air Mata Di Pintu November (TERBIT) ✓ cover
Angkasa dan Cerita cover
Nadlyne - Takdir Melukis Sebuah Kisah cover
Luna cover
Nice To Meet You [REVISI] cover
Twins; Jevan-Nevan [TERBIT] cover
Licensia cover
Jovanka dan Abang Kembar cover
THE CHAOS WITHIN: AWAKENING [Volume I] cover
The Little Angel✓ cover

Air Mata Di Pintu November (TERBIT) ✓

15 bab Lengkap

Novel bisa dibeli di Shopee Jaehana_Store BAGIAN KEDUA SAPTA HARSA VERSI NOVEL || KLANDESTIN UNIVERSE "Kenapa lo jahat sama gue! Kenapa kemarin lo pergi? Kenapa? Kenapa lo ninggalin gue? Kenapa lo tega, Jen?" Haikal tak bisa lagi menahan kesedihan yang telah menumpuk di dalam dirinya. Jendral hanya tertawa kecil. "Lo ngomong apasih, Kal? Gue nggak pergi ke mana-mana, kita kan selalu sama-sama. Gue mana pernah ninggalin lo. Ayo ikut, gabung sama yang lain." Ia menarik tangan Haikal, mengajaknya berlari menuju sisi lain dari air mancur itu. Di sana, semua anggota Klandestin berkumpul. Beberapa duduk di atas ayunan yang berderit pelan, ayunan tersebut dihiasi dengan lampu-lampu kecil yang mengelilinginya. "Bang Haikal! Kenapa telat? Kita nungguin loh!" seru Cakra. "Kal, sini, ada mainan yang cocok buat lo," tambah Reihan. Namun, Haikal menggeleng. Ia justru menggenggam erat tangan Jendral di sampingnya. "Kenapa, Mbul? Main sana," Jendral menatapnya dengan heran. Haikal menggeleng lagi, kali ini dengan lebih kuat. "Gue takut," bisiknya, suaranya hampir tak terdengar. "Takut?" Jendral tertawa, seolah-olah hal itu adalah lelucon. "Seorang Haikal takut?" Haikal mengangguk, menahan diri untuk tidak menangis. "Gue takut kalo genggaman tangan gue lepas, lo bakalan pergi."