natalie

natalie

  • WpView
    Reads 308
  • WpVote
    Votes 24
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Nov 14, 2025
Sebagai anak ketujuh, Natalie adalah "anak itu". Mama sudah capek melahirkan. Ia sudah lelah membesarkan bayi. Jadi, di hari Natal itu, ketika anak perempuan itu lahir, ia menamakannya dengan yang paling mudah saja. Natalie. Tidak seperti kakak-kakaknya, namanya hanya Natalie saja. Mama sudah teler, dan Papa sebetulnya memberikan nama akhirnya di Catatan Sipil, tetapi ketika ditemukan bahwa nama itu tidak tertera, Papa bilang nanti. Jadi Natalie tumbuh besar sebagai "anak itu". Sebagai "anak itu", ia tidak pernah benar-benar tahu apa artinya "itu". Ia terus mencari siapa sebenarnya dirinya. Lebih dari itu, ia mencari soal bagaimana. Soal apa. Lalu sesuatu terjadi di suatu malam. Natalie menangis-nangis. Ia pergi kepada Jethro Assad untuk menolongnya, untuk menebusnya, karena ia tidak mau identitas itu. Namun, betapa pun besarnya cowok itu, betapa pun cowok itu adalah temannya sejak masa kecilnya, ternyata Jethro Assad tidak bisa. Mungkin tidak bisa karena masalah ini sudah terlalu besar. Mungkin tidak bisa karena identitas sebenarnya tidak untuk dicari. Atau mungkin tidak bisa karena cowok itu tidak mau.
All Rights Reserved
#769
kristen
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Jovanka dan Abang Kembar
  • Twins; Jevan-Nevan [TERBIT]
  • Luna
  • Abian untuk Nada
  • Air Mata Di Pintu November (TERBIT) ✓
  • Nice To Meet You [REVISI]
  • Angkasa dan Cerita
  • Licensia
  • THE CHAOS WITHIN: AWAKENING [Volume I]

Hendra dan Narendra Dewantara terlahir dengan beban yang tak mereka mengerti. Sejak kecil, mereka harus mendengar bisikan-bisikan bahwa mereka adalah anak pembawa sial. Namun, di balik semua itu, mereka masih memiliki kasih sayang dari kedua orang tua mereka-setidaknya hingga bayi kecil itu lahir. Jovanka, adik bungsu mereka, hadir ke dunia dengan membawa perubahan besar. Kehadirannya mengubah segalanya. Orang tua mereka, Dewantara dan Cinthya, yang dulu begitu menyayangi mereka, perlahan menjauh. Semua perhatian, semua kasih sayang, semua harapan yang dulu diberikan untuk mereka, kini hanya tertuju pada satu sosok-Jovanka. Hendra dan Narendra tumbuh dengan kebencian yang tak mereka pahami. Bagi mereka, Jovanka adalah alasan mereka kehilangan orang tua. Bayi mungil itu adalah penyebab semua kehancuran. Maka, tanpa sadar, mereka ikut menjauh. Mereka membiarkan adik mereka tumbuh sendirian dalam dingin, tanpa pelukan hangat seorang kakak. Namun, waktu mengajarkan mereka banyak hal. Perlahan, kebenaran terungkap. Luka yang selama ini mereka kira milik mereka saja, ternyata juga terukir dalam diri Jovanka. Dan saat mereka menyadari itu, sudah terlambat. Adik mereka telah berjalan terlalu jauh dalam gelap, terjebak dalam luka yang tak pernah mereka lihat. Kini, di antara penyesalan dan keinginan untuk menebus segalanya, Hendra dan Narendra berjanji. Mereka tidak akan membiarkan Jovanka menghadapi semuanya sendirian lagi. Tidak peduli berapa banyak duri yang harus mereka lalui, tidak peduli seberapa terlambat mereka menyadarinya-mereka akan memastikan adik mereka tidak lagi merasa sendirian. Namun, apakah cinta dan penyesalan cukup untuk menyembuhkan luka yang telah terukir begitu dalam? Ataukah semua ini sudah terlambat? Karena tak peduli seberapa besar keinginan mereka untuk melindungi, pada akhirnya hanya ada satu pertanyaan yang harus dijawab: apakah seorang pangeran yang telah kehilangan mahkotanya masih bisa menemukan rumahnya?

More details
WpActionLinkContent Guidelines