Paradoks
Aku berlari mengejar Vino yang sudah menuruni anak tangga dengan cepat. Aku tak peduli lagi dengan teriakan Nadin yang memanggilku disana ataupun orang-orang yang menatapku dengan rasa ingin tahunya. Yang ku pedulikan saat ini adalah laki-laki yang tadi mengambil origamiku, laki-laki yang begitu mirip dengan Vino. Dan ku yakin dia adalah Vino.
Kali ini, aku kembali menangis tanpa kontrol. Menangis karena satu orang yang sama. Laki-laki yang tanpa rasa bersalahnya selalu membayang-bayangi diriku dan membuat perasaan ini selalu hancur.
"Mba, butuh tissue?"
Aku membalikkan badanku. Menatap tubuh tinggi itu. Menatap mata yang dihalangi oleh kacamata berawarna hitam dan hijau itu. Menatap wajah yang kini tersenyum seraya menyerahkan sekotak tissue kepadaku.
"Vino.."