Angin malam berbisik pelan, membawa aroma hujan yang masih tersisa di udara. Aku duduk di dekat jendela, menatap langit yang bertabur bintang. Di antara kelip cahaya di atas sana, aku bertanya-tanya... sejak kapan aku mulai merasa seperti ini? Sejak kapan aku belajar bahwa hati bisa begitu rumit?
Masa kecilku dipenuhi tawa, pertemanan yang sederhana, dan perasaan yang belum ku pahami. Tapi seiring waktu, aku belajar bahwa tidak semua kisah berjalan seperti dongeng. Aku bertemu dengan orang-orang yang meninggalkan jejak dalam hidupku-beberapa sebagai kenangan indah, beberapa sebagai pelajaran berharga.
Rafa, yang sejak dulu selalu ada, tapi tak pernah benar-benar ku pandang dengan cara yang sama.
Kailan, yang pernah membuatku merasa istimewa, lalu dengan mudahnya memilih yang lain.
Revan, yang dengan segala kelebihannya, membuatku bertanya-tanya apakah aku cukup baik. Dan... dia.
Faizan.
Namanya tidak pernah ku tuliskan dalam daftar orang-orang yang ingin ku hapus dari ingatan, tapi entah kenapa, juga bukan nama yang mudah untuk tetap kusimpan.
Malam ini, di bawah langit yang sama, aku menyadari bahwa perjalananku bukan hanya tentang cinta. Ini tentang bagaimana aku menemukan diriku sendiri.
Dan mungkin, tentang bagaimana aku belajar menerima bahwa tidak semua cerita berakhir seperti yang kita harapkan.
Aku dan kamu, sama.
Masing-masing dari kita punya mimpi.
Mungkin impianku dan impianmu berbeda, namun satu yang pasti, aku dan kamu tentu ingin impian itu menjadi nyata.
Ibuku pernah berkata bahwa untuk mewujudkan mimpi-mimpi itu tidaklah mudah, namun tidak juga tidak mungkin. Selama kamu dan aku berjuang, pasti kita bisa meraih impian kita.
Lalu bagaimana dengan orang-orang yang menganggap remeh kita? yang mengucilkan mimpi kita? yang mengatakan mimpi kita adalah hal yang harus kita lupakan?
Ya. Aku tau, aku dan kamu pasti pernah terluka karena hal-hal itu. Pahit memang. Namun, jika kamu mau membuka mata dan hati, suatu saat kamu akan berterima kasih kepada mereka yang menyakitimu.
Disini, ku tuliskan semua ceritaku dalam mewujudkan impianku. Tentang mereka yang mendukungku, tentang mereka yang mematikan harapanku, juga, tentang dia... malaikat yang Tuhan kirimkan untuk menyemangatiku dikala aku hampir menyerah pada impianku.
Kisah ini kutulis untuk mengenang sakitnya perjalanan menggapai mimpiku, juga, indahnya pelajaran yang kudapat. Kisah ini juga ku tuliskan untuk mengenang indahnya senyumnya.
Untuk impianku...
dan untukmu, yang tau indahnya bermimpi...