Setelah kematian Ibu, kini giliran Bapak. Lalu setelah mereka, siapa selanjutnya?
Aku berharap yang kualami ini hanyalah mimpi. Bahwa aku akan terbangun dari tidur dan menemukan diriku kembali dalam kehidupan yang dulu. Menjadi anak bungsu kesayangan Bapak, Ibu, dan Mbak Ayu. Hidup dalam rumah besar ini bersama para rewang yang selalu sigap, dengan aroma masakan hangat dari dapur dan tawa renyah yang memenuhi ruang tengah. Menjalani hari - hariku sebagai mahasiswi di Semarang, mengejar cita - cita yang Bapak impikan untukku.
Sungguh, dulu kehidupanku terasa sempurna. Hingga semuanya berubah dalam sekejap. Aku ingin percaya bahwa semuanya akan berakhir di sini, bahwa tidak akan ada lagi yang harus menghilang. Tapi aku tidak bisa menipu diri sendiri. Aku tahu betul, ini belum selesai.
Aku tidak tahu apa yang sebenarnya Mas Fajar inginkan selain Mbak Ayu. Apakah semua ini hanya karena dia menginginkan Mbak Ayu... atau ada sesuatu yang lebih gelap yang dia cari?
Setelah Mas Arjun menghilang secara tiba - tiba, Mbak Ayu berubah. Ia tidak lagi seperti dirinya sendiri. Kadang - kadang, aku menemukannya duduk di teras rumah, menatap jalanan gelap dengan pandangan kosong, bibirnya bergerak seolah berbicara dengan seseorang yang tak terlihat. Kadang-kadang, aku mendengar isak tangisnya dari balik kamar, bercampur dengan suara-suara aneh yang tak seharusnya ada di rumah ini.
Entah dosa apa yang telah keluarga kami lakukan pada Mas Fajar hingga ia berbuat sejauh ini. Aku hanya bisa berharap, semuanya berhenti di aku dan Mbak Ayu.
Tapi di lubuk hatiku, aku tahu... harapan itu terlalu naif.
Ajeng, Desember 1997.
Todos los derechos reservados