With You
  • WpView
    Reads 129
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Oct 19, 2025
Ganga tidak pernah bisa mengerti bagaimana sebenarnya takdir yang sedang ia jalani. Rasanya ia lahir hanya untuk merasakan sakit tanpa tau apakah bahagia itu benar-benar ada. Oh, pernah. Waktu itu, ketika laki-laki yang dicintainya selalu ada bersamanya. Namun bahagia itu hanya sebentar karena sang kekasih yang diam-diam mengkhianatinya, setelah dua tahun mereka bersama. Ganga marah dan kecewa. Bukan hanya pada takdir tapi juga pada Tuhan. Hingga seorang laki-laki dengan jas putih kebanggaannya tiba-tiba datang menawarkan obat yang seharusnya. ••• "Bukan begitu cara menolakku, Ganga. Coba lagi, dan aku pastikan kamu tidak akan pernah berhasil," tegas laki-laki itu tanpa mengalihkan pandangannya dari Ganga sedikit pun ••• Start = 9 Maret 2025 End = ...
All Rights Reserved
#519
penyakit
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • [End] Behind The Heart
  • Aku, Kamu, dan Takdir Tuhan
  • Tulisan Ghani (SELESAI)
  • Argasha [ON GOING]
  • Aslan, Are you my last love?
  • Meneroka Jiwa 2
  • Tobatnya 'Seorang' Buaya ✔
  •  ARGALA

[Romance] Follow dulu, baru dibaca. Avram Gian Pradipto -Dokter dengan tingkat kegagalan operasi 0%- Wanita itu melihatku tajam. Tanpa rasa terkejut, maupun cemas. Sebaliknya, ia balik tersenyum dan menunjukkan raut lega. Lalu pelan, bibirnya mulai berucap, "Tidak, terima kasih. Tapi, aku tidak ingin sembuh. Jadi, dok ... biarkan aku tetap sakit dan meninggal pada akhirnya." Galiya Mira Tabitha -Pasien dengan tingkat keinginan mati 100%- Pria itu melihatku bingung. Penuh rasa khawatir dan takut. Ia bertindak seakan dirinya adalah pasien dan aku sebagai dokternya. Lalu cepat, suaranya mulai kembali terdengar, "Saya tidak mengerti. Kenapa ... kenapa kamu bisa memiliki pikiran seperti itu? Kematian bukan sesuatu yang mudah. Dan saya ... saya tidak akan membiarkan kamu untuk meninggal. Tidak akan pernah." Bagaimana jadinya, jika seorang dokter yang selalu ingin menyelamatkan nyawa seseorang, bertemu dengan pasien yang tidak ingin diselamatkan? Akankah tercipta sebuah pengertian? Atau justru membentuk sebuah akhir menyedihkan?

More details
WpActionLinkContent Guidelines