Prolog
Elle tumbuh dengan banyak tuntutan-tidak dalam bentuk teriakan atau hukuman, tetapi dalam diam yang membuatnya terikat. Ibunya tidak pernah marah, tetapi kata-katanya selalu terdengar seperti petunjuk yang tidak bisa diabaikan. Elle harus begini, harus begitu. Harus jadi anak yang baik, harus bertanggung jawab, harus mengambil pilihan yang tepat-bukan menurutnya, tapi menurut ibunya.
Adik bungsunya, satu-satunya yang bisa menikmati kasih sayang tanpa beban, tumbuh dengan manja. Tidak salah, karena ia memang anak bungsu, dan Elle selalu tahu perannya: menjadi yang kuat, yang dewasa, yang memahami segalanya.
Maka, ketika Marvin datang dengan senyum dan perhatiannya yang hangat, Elle ragu. Bukan karena ia tidak pernah merasakan cinta, tetapi karena ia tidak tahu bagaimana rasanya dicintai tanpa harus membuktikan dirinya pantas untuk itu.
Acha, sahabatnya yang selalu tenang dan logis, sering berkata, "Nggak semua orang datang buat nyakitin, Elle."
Tapi bagaimana kalau kali ini Acha salah? Bagaimana kalau Marvin, dengan segala kesempurnaannya, hanya akan jadi luka lain yang harus ia tanggung?
Elle tidak tahu jawabannya. Yang ia tahu, perasaan yang perlahan tumbuh ini bukan sesuatu yang bisa ia kendalikan-dan itu menakutkan.
All Rights Reserved