bloody vision

bloody vision

  • WpView
    Reads 13
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Mar 12, 2025
Kael lahir dengan "Blood Vision", kemampuan yang membuatnya bisa melihat kematian siapa pun hanya dengan menyentuh benda atau tempat yang berhubungan dengan kematian itu. Sejak kecil, ia dihantui oleh visi mengerikan yang bahkan membuatnya sempat mengira dirinya gila. Tapi sekarang, ia telah menjadikan kemampuannya sebagai senjata-membantu kepolisian mengungkap kasus yang mustahil terpecahkan. Namun, semuanya berubah saat ia menangani Kasus Red Veil-serangkaian pembunuhan brutal yang terjadi 30 tahun lalu. Saat ia menyentuh barang bukti terakhir, ia melihat sesuatu yang seharusnya tidak mungkin: dirinya sendiri berdiri di tempat kejadian, menatap langsung ke mata si pembunuh. Bagaimana bisa ia ada di sana, padahal ia belum lahir? Siapa sebenarnya pelaku Red Veil? Dan yang paling penting... mengapa pembunuhan itu mulai terjadi lagi? ---
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Terraciel World: Nyanyian Darah Tertua
  • KAELVOSS - Velvet Trap
  • Jeff || The Devil Second Lead (End)
  • The Heir's Journey : The Last Blood of Elandor
  • Mantra Penghancur Moral
  • I became the black dragon master
  • VALEN and The Guide of Shadow

Varie melangkah ragu menuju aula utama. Matanya menyapu deretan kursi bertingkat yang tak terhitung jumlahnya. Mungkin ada ribuan, atau lebih. Belum pernah ia melihat aula sebesar ini. Jantungnya berdebar, antara gugup dan kagum. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. Pandangannya menyapu ruangan dan terhenti pada sepasang mata biru yang begitu familiar. Pemuda itu, Kael. Sosok yang kini lebih dewasa, namun tetap dengan tatapan tajam yang tak pernah berubah. Varie menahan napas, matanya sejenak membeku. Tidak mungkin, Ini bukan kebetulan, kan? Tentu saja itu Kael, meskipun dia tampak jauh berbeda dari yang ia ingat. Kael melangkah pelan ke arahnya. Langkah-langkahnya tenang, terukur. Bukan terburu-buru, tapi juga tidak ragu. Seolah jarak di antara mereka memang tinggal menunggu waktu untuk dijembatani. Kael berhenti tepat di hadapan Varie. Beberapa detik hanya diisi keheningan. Sorot matanya tetap tajam, tapi dalamnya menyimpan sesuatu yang sulit dijelaskan, rindu yang ditahan terlalu lama. "Varie." Suaranya pelan. Varie mengerjap pelan. "Kael" ujarnya, lebih kepada dirinya sendiri. Tubuhnya seolah butuh waktu untuk menerima kenyataan itu. Tatapan mereka bertemu. ----- Di antara konspirasi kekuasaan, sihir pemusnah, dan kebenaran yang terlupakan, mereka dihadapkan pada pilihan: Mengikuti jalan yang ditentukan atau Membentuk takdir baru bersama. Darah dan mesin. Jiwa dan sistem. Saat keduanya bersinggungan, dunia tak akan lagi sama.

More details
WpActionLinkContent Guidelines