PERJODOHAN (ELGIT) END

PERJODOHAN (ELGIT) END

  • WpView
    Reads 7,811
  • WpVote
    Votes 414
  • WpPart
    Parts 25
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Jan 27, 2026
menceritakan tentang perjanjian keluarga yg akan menjodohkan anaknya ketika sudah dewasa
All Rights Reserved
#36
elgit
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • She Is My Older Sister?
  • MENIKAHI JANDA MUDA
  • Rumah yang Kita Bangun Bersama
  • Rules
  • The Captain's [END]
  • Aku Salah Apa
  • CENGENG  (END)
  • Rumah Kita-Cinta Kita.
  • KALAH SARVAM VIROPAYATI (CH2) END
  • ONE SHOOT ZEE

Dari sini, kita akan melihat, kehidupan seorang Zeanan yang ternyata memiliki dua cegil tersembunyi. Awalnya memang seperti itu. Namun, seiring berjalannya waktu, mulai terlihat. Bahkan, sepertinya, Ayahnya pun sama saja, tapi tidak terlalu di perlihatkan. Ah, bagaimana bisa, Zea memiliki keluarga se-bucin itu padanya? ---- Berkali-kali, Zeanan memperhatikan penampilan menor itu dari atas sampai bawah. Beberapa saat kemudian, Zeanan mengernyit, mengingat siapa sosok perempuan tersebut. "K-kak Galen?" Galenka Putriana Brisma. Kakak sulungnya yang entah berapa lama tidak menampakkan diri di kediaman mereka. Lalu, tiba-tiba saja muncul di kamarnya seperti ini? Gadis yang memiliki rahang tegas serta alis melengkung itu mengulas senyum lebar. Dengan semangat dia melangkah menghampiri seseorang yang masih menatapnya bingung bercampur terkejut. "Zea!" ---- "Iyalah. Dia 'kan nurun dari aku itu." Mendengar nada songong itu, Zea menoleh. Dahinya mengernyit tajam melihat Hana yang menaikkan sebelah alis, meliriknya dengan nakal. Beberapa saat sibuk dengan pemikirannya, Zea mendengus geli. "Bunda ... Bunda kok jadi kaya Kakak, sih?" "Masa? Yang bener. Coba deh, pikirin lagi sama kamu ..." Ujar Hana dengan bisikan genit. "... yang bener itu, Bunda yang mirip Kakak ... atau Kakak yang mirip Bunda, hm?" Mata Zea reflek berkedip polos. Mulutnya tergagu. Tatapannya bercampur aduk melihat sisi Hana yang baru kemarin dia lihat. Ah, bukan. Apakah dia baru menyadarinya? ---- "Iya, yah? Ututu~ maaf ya, sayang." Goda Brisma. "Ck, Ayah~" Mendengar rengekkan itu, Brisma merasa gemas. Wajahnya bergerak mendusel-ndusel ke leher sang anak. "Ayah, please ..." Zea meringis geli. "Zea udah gede. Te-terus ... Ayah nggak risih kalo Zea bau?" "Mau risih gimana, Nak?" Brisma tergelak. "Bau asemnya kaya bayiii gini ..." "Iiihh ... Ayah, kok gitu?" "Apa? Bener, kok." Brisma tertawa melihat wajah cemberut Zea, lantas kembali memberikan ciuman di pipi.

More details
WpActionLinkContent Guidelines