Revving Love

Revving Love

  • WpView
    LECTURES 349
  • WpVote
    Votes 7
  • WpPart
    Chapitres 14
WpMetadataReadEn cours d'écriture
WpMetadataNoticeDernière publication jeu., avr. 2, 2026
WpInfo
Fiction
Romance
Murid-murid di sekolah ini terbiasa dengan mobil sport atau sedan mewah yang mengilap, bukan sepeda reyot yang bahkan terlihat seperti peninggalan kakek-nenek. Vicky turun dari sepedanya dengan tenang. Rambut coklat gelapnya terikat longgar, kulitnya putih bersih, dan matanya tajam. Tapi bukan itu yang membuatnya berbeda. Ada sesuatu dalam caranya melangkah-tenang, percaya diri, tanpa sedikit pun terlihat canggung meski ratusan pasang mata menatapnya dengan heran, geli, atau bahkan remeh. Adam yang melihat pemandangan itu justru terkekeh kecil, menyikut Marcel di sampingnya. "Bro, ternyata ada yang lebih miskin daripada gue." Marcel menahan tawa, sementara Varel hanya melirik Adam sekilas dengan ekspresi tajam sebelum kembali mengamati Vicky yang berjalan ke arah lobi sekolah. Sementara itu, Vicky tetap melangkah tanpa peduli tatapan sinis di sekelilingnya. Sama sekali tidak ada rasa canggung dalam ekspresinya. Dan bagi Adam, itu sedikit menarik. Sedikit.
Tous Droits Réservés
#45
mohan
WpChevronRight
Rejoignez la plus grande communauté de conteursObtiens des recommandations personnalisées d'histoires, enregistre tes préférées dans ta bibliothèque, commente et vote pour développer ta communauté.
Illustration

Vous aimerez aussi

  • Antara Kita [ Arya Mohan & Aqeela Calista ] Hiatus✔️
  • social science class 3
  • A MEMORY BETWEEN US | HARQEEL [ON GOING]
  • Mencari Cinta Sejati (END)
  • Diam Diam Nikah
  • Rival, Jadi Pacar?
  • FATQEEL
  • Finding The Light ~ Moqeel  [COMPLETE]
  • Our Love Journey Story
  • HARQEEL

"Jangan sok-sokan paham sama keadaan gue, Arsen." Kay menelisik ke arah Arsen. Ia berniat beranjak dari duduknya namun suara Arsen mengintruksinya. "Semua rasa sakit yang lo alami sekarang udah pernah gue rasain jauh sebelum lo, Kay. Jangan merasa seolah lo yang paling tersakiti di dunia ini." Kay kembali duduk disebelah Arsen dan memandangnya sengit. "Gue gak pernah merasa paling tersakiti seperti apa yang lo bilang barusan. Justru gue lagi berusaha agar lo gak merasakan lebih jauh sakitnya, Arsen. Tapi ternyata lo udah ngerasain semua rasa sakit, ya?" Kay tertawa sinis. "Baiklah. Kayaknya usaha gue cukup sampai disini. Sorry gue duluan." Kini Kay benar-benar beranjak meninggalkan Arsen yang diam mematung memandangi nya yang kian menjauh.

Plus d’Infos
WpActionLinkDirectives du Contenu