Ashes Of Yesterday

Ashes Of Yesterday

  • WpView
    Reads 49,112
  • WpVote
    Votes 2,308
  • WpPart
    Parts 27
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, May 4, 2026
WpInfo
Fanfic
EXO
Raven menatap tajam ke arah pria yang berdiri di depannya. "Bisa-bisanya kau mencelakai dan memfitnah Ravael!" seru pria itu dengan penuh amarah. Sementara itu, Raven yang sudah tersungkur di bawahnya mengepalkan tangan, menahan amarah. "Sebetulnya, yang anak kandung itu aku atau Ravael?" tanyanya dingin, meski sorot matanya penuh kemarahan dan kekecewaan. Pria itu terkejut. "Tentu saja kau anakku!" jawabnya tegas. Raven menyeringai sinis. "Lalu kenapa Papa lebih percaya Ravael?" Pria itu menghela napas. "Karena kau sudah keterlaluan, Raven." Sebelum Raven sempat membela diri, kakaknya, Jo, menyela dengan penuh emosi. "Kau yang selalu mencari masalah! Citra keluarga kita rusak karena sikap kekanak-kanakanmu. Belajarlah dari Ravael! Jika aku bisa memilih, aku lebih ingin dia menjadi adikku daripada kau!" Ucapan Jo menghantam Raven telak. Dalam kemarahan yang membuncah, ia menghunus pisau lipatnya dan menggores leher Ravael. Semua orang terkejut. Jo, tanpa pikir panjang, mendorong Raven hingga terjatuh dari lantai dua. Tubuhnya menghantam guci besar yang pecah berkeping-keping dan menusuk tubuhnya. Namun, alih-alih merasakan kematian, Raven terbangun di ranjang rumah sakit dengan kepala berdenyut sakit. Ia menoleh dan melihat sosok yang tak asing-bodyguard sekaligus ayah angkatnya yang seharusnya sudah meninggal beberapa tahun silam. Menatap sekeliling, Raven tersadar-ia kembali ke lima tahun lalu, ke saat di mana keluarganya lebih memilih menemani Ravael ke pantai daripada menjemputnya dari sekolah. Kini, ia mendapat kesempatan kedua. Ini bukan anugerah. Ini peringatan. Dan kali ini, ia tak akan membiarkan dirinya terjebak dalam keluarga yang tak pernah menginginkannya.
All Rights Reserved
#114
rebirt
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Rumah Tanpa Pintu [ON GOING]
  • The Good Bad Brother✔️
  • Just a Moment
  • Give Up? (Complete)
  • ADIKARA ELUSIF (END)
  • I'm Rafkal Not Raskal !!
  • My Brother[Sequel Mianhae My Brother]
  • ℤ𝔸𝕐ℕ

"Aku yang bakal bawa Dhega." "Kamu gila, Bayu? Kamu gak mikirin anak-anak? "Aku atau kamu yang gila? Aku atau kamu yang nggak mikirin anak-anak?" Sedari ia kecil sang ibu selalu memarahinya dengan alasan jika ia harus berguna dan tidak merepotkan orang lain. Ibunya yang selalu meremehkan hal-hal kecil yang ia lakukan, ibunya yang selalu mementingkan dan mengutamakan sang anak pertama. Dunianya kala itu harusnya hanya tentang bermain, malah ikut andil dalam permasalahan orang dewasa. Dan naasnya, ia harus melihat kedua orang tuanya yang memilih untuk berpisah. membuat dirinya harus ikut dengan sang ayah. Semesta Radhega yang tidak ingin melulu menjadi akhir, ia juga ingin menjadi yang utama, yang selalu diprioritaskan ibunya. "Begitu sulit menyuarakan luka, saat mereka terus-menerus mendesakmu untuk sempurna."

More details
WpActionLinkContent Guidelines