twenty six

twenty six

  • WpView
    Membaca 137
  • WpVote
    Vote 20
  • WpPart
    Bab 7
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Sel, Mei 6, 2025
"let's play the game friends" Gedung sekolah terbakar hangus Seolah tak ada yang selamat,26 siswa berhasil selamat dari kobaran api yang menghanguskan satu sekolah itu. "Sialan" ucap Angkasa sang ketua yang merasa marah melihat kejadian yang tertimpa pada diri nya dan teman teman nya. "kawan kawan...,g-gak gak mungkin ini semua mimpi kan!" teriak Leanor melihat abu sekolah. "Cheri mana!?" ucap Ruby panik mencari sahabat nya "e-eh...s-sakit kita harus mencari siapa yang melakukan semua ini " ucap Cherilyn yang muncul dari bawah reruntuhan bangunan sekolah. "akak!" teriak Azreya adik Cherilyn,"gue gapapa,kita harus pergi ke markas bawah tanah mau tidak mau" ucap nya lalu Angkasa menyuruh Leo dan Louis untuk memimpin barisan dari depan dan ia membantu Cherilyn berjalan dari arah belakang karena Cherilyn masih lemah untuk saat ini.. Mereka pun masuk ke dalam markas bawah tanah yang Angkasa dan Cherilyn sudah rencanakan. Ruby dan Zelyn dan Alvano membuka peta lokasi dan target target yang akan menjadi korban dalam kasus Twenty six . Sementara itu Angkasa Lea Azreya Celine dan Dita mengobati luka luka bakar yang ada di tubuh Cherilyn. "Lo bego banget sih Ce lu jadi luka kaya gini demi nyelamatin kita doang " ucap Celine khawatir namun hanya di balas tertawa kecil oleh Cherilyn. Beberapa anggota lain menjaga pintu pertahanan agar tidak ada yang bisa masuk , Angkasa mengecek semua anggota yang ada di situ berharap semua nya lengkap dan untung saja semua anggota Cobra berhasil selamat dari kebakaran dengan luka ringan kecuali Cherilyn. Apa yang akan terjadi pada mereka selanjutnya?,simak cerita ini! kalau suka jangan lupa vote ya!!
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
#140
ketakutan
WpChevronRight
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • Aku & Kamu Kita
  • Kian Johnny Dawson
  • Beautiful Little Maid
  • Friendship [END]
  • A MEMORY BETWEEN US | HARQEEL [ON GOING]
  • Cegilbar (cewek gila bar-bar)
  • Black Code (Lima)
  • REUNI (Enam)

Qil... maaf, gue nggak sadar sama apa yang barusan kita lakuin," ucap Mohan, suaranya lirih, penuh penyesalan. Namun penyesalan itu tak mampu membendung luka di dada Aqila. Ia menatap Mohan dengan mata yang basah dan penuh kekecewaan. Suaranya pecah, histeris, "Diem lo! Gue salah apa, Mohan? Kenapa lo jahat banget sama gue? Gue benci lo, Mohan! Akhhhhh!!" Jeritannya menggema, memecah malam yang sepi. Mohan panik. Ia mendekat, mencoba menenangkan dengan memeluk tubuh Aqila yang bergetar. Tapi Aqila memberontak, menolak sentuhan itu seolah menyentuhnya adalah membuka kembali luka yang belum sembuh. "Lepasin! Lepasin gue! Jangan lakuin itu lagi... Sakit... Sakit!" isaknya keras. Mohan terdiam sesaat, menelan semua rasa bersalah yang menyesakkan. Ia mengendurkan pelukannya, menatap wajah Aqila yang basah oleh air mata. Dengan lembut, ia genggam wajah Aqila, memaksanya menatap ke arahnya. "Oke, gue lepasin. Tapi plis, Qil... Tenang dulu, oke?" Aqila hanya terisak. Tidak menjawab. Tidak memukul. Tidak menolak. Tapi juga tidak menerima. Malam itu menjadi saksi, bahwa kadang maaf tidak cukup. Ada luka yang butuh lebih dari sekadar kata-kata untuk sembuh.

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan