Di balik gerbang emas kediaman megah keluarga Adiwangsa, tersimpan sebuah rahasia yang baunya lebih busuk dari sampah. Cakra Adiwangsa tidak pernah meminta dilahirkan sebagai kembaran Langit. Namun, bagi kedua orang tuanya, Cakra adalah "cacat produksi" yang merenggut kesehatan kembarannya sejak di dalam kandungan. Di rumah itu, Cakra tidak dipanggil nama. Ia adalah "Anak Sialan," "Pembawa Musibah," atau "Sampah yang Malu-Maluin." Sementara Langit tidur di atas kasur sutra dengan pelayan yang siap sedia, Cakra dipaksa tidur di gudang pengap, menjadi pelayan bagi saudaranya sendiri, dan menerima sisa makanan yang hampir basi. Jika Langit batuk sedikit saja, maka punggung Cakralah yang akan menjadi sasaran cambuk sang Ayah sebagai pelampiasan amarah. Neraka Cakra tidak berhenti di pagar rumah. Di SMA Pelita Bangsa-sekolah elite milik keluarganya sendiri-Cakra menjadi mangsa empuk perundungan. Langit menciptakan narasi bahwa Cakra adalah anak pembuat onar yang dibenci keluarga. Dicaci, dipukuli, hingga dikunci di kamar mandi sekolah sudah menjadi sarapan harian Cakra. Ia kaya secara status, namun lebih miskin dari pengemis dalam hal harga diri. Cakra bertahan, mencoba percaya bahwa suatu saat detak jantungnya akan dianggap berharga. Namun, ketika sebuah diagnosa medis menyatakan organ tubuhnya mulai menyerah akibat kekerasan fisik bertahun-tahun, Cakra menyadari satu hal pahit: Keluarganya baru akan tersenyum jika ia benar-benar menghilang. Ini bukan cerita tentang perjuangan untuk bangkit. Ini adalah kronik tentang seorang remaja yang perlahan hancur dalam diam, hingga akhirnya ia memilih untuk memberikan "hadiah" terakhir bagi keluarganya: Kematian yang akan menghantui mereka seumur hidup.
More details