Singgah untuk Abadi

Singgah untuk Abadi

  • WpView
    Reads 26
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Feb 2, 2026
Mereka akhirnya bertemu dalam pelukan. Dari seberang jalan, seseorang tersenyum-seolah tahu, waktu mereka tak lama. Penantian panjang berakhir hangat. Seseorang di seberang menyaksikannya, tersenyum, sebelum segalanya berubah. Mereka berpelukan setelah waktu yang terlalu lama. Di seberang jalan, ada senyum yang lebih dulu pamit. Pertemuan itu disaksikan diam-diam dari seberang. Senyum manisnya menjadi saksi terakhir sebelum waktu berhenti. Apa arti senyum itu? senang? lega? kesedihan? kecewa? atau penyesalan?
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Aku & Kamu Kita
  • Because ILY [Completed]
  • Mysterious Girl
  • Takdir di Antara Kita (Tamat)
  • Our Marriage
  • GOLD
  • Kita Beda Tuhan [TAMAT]
  • ALDARA
  • Serambi Doa [REVISI]

Qil... maaf, gue nggak sadar sama apa yang barusan kita lakuin," ucap Mohan, suaranya lirih, penuh penyesalan. Namun penyesalan itu tak mampu membendung luka di dada Aqila. Ia menatap Mohan dengan mata yang basah dan penuh kekecewaan. Suaranya pecah, histeris, "Diem lo! Gue salah apa, Mohan? Kenapa lo jahat banget sama gue? Gue benci lo, Mohan! Akhhhhh!!" Jeritannya menggema, memecah malam yang sepi. Mohan panik. Ia mendekat, mencoba menenangkan dengan memeluk tubuh Aqila yang bergetar. Tapi Aqila memberontak, menolak sentuhan itu seolah menyentuhnya adalah membuka kembali luka yang belum sembuh. "Lepasin! Lepasin gue! Jangan lakuin itu lagi... Sakit... Sakit!" isaknya keras. Mohan terdiam sesaat, menelan semua rasa bersalah yang menyesakkan. Ia mengendurkan pelukannya, menatap wajah Aqila yang basah oleh air mata. Dengan lembut, ia genggam wajah Aqila, memaksanya menatap ke arahnya. "Oke, gue lepasin. Tapi plis, Qil... Tenang dulu, oke?" Aqila hanya terisak. Tidak menjawab. Tidak memukul. Tidak menolak. Tapi juga tidak menerima. Malam itu menjadi saksi, bahwa kadang maaf tidak cukup. Ada luka yang butuh lebih dari sekadar kata-kata untuk sembuh.

More details
WpActionLinkContent Guidelines