Lautan tak berujung

Lautan tak berujung

  • WpView
    Reads 1,168
  • WpVote
    Votes 531
  • WpPart
    Parts 31
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, May 15, 2025
"Rumah tidak harus berbentuk bangunan. Kamu, bisa anggap aku rumah, tempat mu kembali, tempat mu berpulang, dan tempat mu mengadu keluh kesah." -Baskara Evandro Xavier "Peluk luka ku, obati, dan jaga aku." - Lunabelle Vynessa Elwuriana. ..... Bagi Luna, mengenal Baskara merupakan anugerah terindah dalam hidupnya. Baskara datang membawa warna di hidupnya yang suram. Namun, "Luna, CUKUP!" teriak Baskara. Tapi Luna malah ngelirik dia sambil ketawa pelan. Senyum miring. Pandangan gila. "Apa lo takut, Bas? Takut gue lebih deket sama mereka daripada sama lo?" Detik itu juga... Plak. Baskara nampar Luna. Keras. Sampai Luna jatuh terduduk. Reno langsung maju, tapi Baskara udah mundur beberapa langkah. Muka Luna diem. Nggak nangis. Nggak kaget. Dia cuma senyum lagi. Lebih gila. "Lo akhirnya berani juga mukul gue ya..." Baskara gemetar. Tangannya masih ngangkat, tapi sekarang dia liatnya bukan Luna lagi. Yang dia liat cuma bayangan seseorang yang udah hilang. "Gue nggak bisa terus begini," suara Baskara berat. "Gue udah nyoba, Lun. Tapi lo nggak mau ditolong. Lo malah tenggelam. Dan sekarang lo narik gue juga." Luna diem. Baskara mundur, nafasnya berat. "Apa pun yang kita punya... sekarang udah nggak ada." Lantas bisakah keduanya tetap bersama?
All Rights Reserved
#361
baskara
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Capricorn
  • Leana Story (End)
  • NOISY SOUL [Ongoing]
  • MY SWEET BOY [SUDAH TERBIT}
  • Deksa 's Diary
  • BABAK TERAKHIR
  • Antagonis 2 (END)
  • VAGALDARA [TERBIT]
  • Pelangi yang Telah Lama Hilang
Capricorn

"Aku suka sama Kak Al." Rea mengatakannya tanpa ragu. Tenang. Pelan. Tapi dalam dadanya, jantungnya berdebar seperti genderang perang. Lapangan basket sore itu sepi. Matahari sudah tenggelam separuh, menyisakan semburat jingga yang menggantung di langit. Angin membawa bau rumput basah dan suara tiang ring basket yang berderit pelan. Di tengah sunyi itu, Rea berdiri, seragamnya masih rapi, rambutnya dikuncir seadanya, dan matanya menatap Kak Al, lurus. Alvano menoleh, pelan. Keringat masih menempel di pelipisnya, dan bola basket tergenggam di tangan kirinya. Ia diam. "Apa tadi?" tanyanya, suaranya rendah. Tidak kaget. Tapi juga tidak menjawab. Rea menarik napas. Ia benci mengulang. Tapi kali ini berbeda. "Aku suka sama Kak Al," ulangnya, lebih lirih. "Dari awal aku lihat Kakak main di lapangan. Aku tahu ini mungkin... aneh. Tapi aku cuma pengen jujur." Ia tidak terbiasa berkata seperti ini. Tidak terbiasa membeberkan isi hati. Tapi Rea bukan pengecut. Ia adalah seseorang yang lebih takut menyesal karena diam daripada malu karena gagal. "Aku tahu Kakak mungkin nggak mikir apa-apa. Tapi aku cuma pengen bilang," lanjutnya. "Supaya kalau besok-besok aku canggung atau... ngelihatin Kakak diam-diam, Kakak tahu alasannya." Sunyi. Kak Al memutar bola basket di ujung jarinya. Lalu berhenti. Tatapannya tidak tajam, tapi ada sesuatu yang menggantung di dalamnya. Berat. "Rea..." katanya. Lembut. Tapi nadanya membuat dada Rea mengeras. "Kamu manis. Kamu juga berani. Tapi..." Rea mengangguk pelan, mencoba tersenyum meski wajahnya menegang. "Aku udah punya pacar." Deg. Rea tidak menangis. Tidak mundur. Tidak bertanya siapa. Ia hanya berdiri. Diam. Lalu berkata, "Nggak apa-apa, Kak." Yang tidak dia tahu, pacar Kak Al itu... adalah Dara. Kakaknya sendiri. Dan semuanya... baru saja dimulai.

More details
WpActionLinkContent Guidelines