Story cover for TRAGIC by Bellsaaaf94
TRAGIC
  • WpView
    Reads 13
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 1
  • WpView
    Reads 13
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 1
Ongoing, First published Mar 17, 2025
"Another life?" Kata Hyeri dalam hati- oh! bahkan suara dalam hati nya saja terasa serak.

Dokter itu langsung menyoroti mata Hyeri dengan senter berwarna silver itu. "Apa kau ingat sekarang ada dimana, nona?" Duh- sinar lagi yang menusuk mata agak kecil ini.

Hyeri tidak bisa menjawab, suara nya tidak mau keluar, tenggorkan nya masih tercekit. Ia tertabrak 'kan? bukan gantung diri, bagaimana bis-

"Apa kau tau nama mu siapa?" Kata dokter itu lagi memotong pembicaraan Hyeri dalam hati. 

Hyeri mengganggukan kepala kecil. Mulut nya sangat asam, badan nya terasa lemas. "Selamat nona, anda telah bangun dari koma 2 tahun."

DEG
All Rights Reserved
Table of contents
Sign up to add TRAGIC to your library and receive updates
or
Content Guidelines
You may also like
Dalam Diam | Hiatus by zexibo
20 parts Complete
Dalam Diam Ia tumbuh dalam dunia yang tenang tapi penuh celah. Seorang gadis yang dibesarkan oleh ibu tunggal, di antara kasih yang tulus dan kisah yang setengah jadi. Ibunya tak pernah marah, tapi juga tak pernah benar-benar bercerita. Tentang masa lalu, tentang ayahnya, tentang rumah yang seharusnya jadi tempat kembali-semua hanya hadir dalam potongan-potongan kabur yang tak pernah lengkap. Hidupnya berjalan seperti itu, penuh tanya yang tak lagi ia kejar jawabannya. Sampai suatu hari, dunia yang ia kenal mulai bergeser. Sebuah surat undangan membawa namanya ke ajang Olimpiade Sains Internasional. Pemeriksaan kesehatan hanyalah prosedur awal-begitu ia kira. Namun rumah sakit tempat pemeriksaan itu justru menjadi simpul dari benang-benang yang selama ini kusut dalam kepalanya. Nama 'Diranata' menampar ingatannya, menghidupkan kembali bisikan-bisikan yang dulu sering didengar namun tak pernah dimengerti. Dan di antara lorong putih dan suara monitor medis, ia bertemu Gracia. Seorang dokter muda yang baik dan tenang, namun tak tahu bahwa yang sedang duduk di hadapannya mungkin adalah kakaknya sendiri. Ia mengenali wajah itu. Bukan dari ingatan, tapi dari foto lama-foto yang selama ini disimpannya tanpa tahu maknanya. Foto mamanya, memeluk seorang anak kecil yang bukan dirinya. Kini ia tahu, siapa gadis kecil itu. Tapi tetap memilih diam. Diam, karena belum waktunya bertanya. Diam, karena kadang kenyataan lebih menakutkan dari dugaan. Dan diam, karena hatinya belum siap menerima apa yang mungkin telah lama ia tunggu. Langkahnya pelan, tapi pasti. Satu demi satu, rahasia yang terkubur mulai muncul ke permukaan. Bukan dengan dramatisasi, tapi lewat tatapan, pertemuan singkat, dan perasaan yang tak bisa dijelaskan. Ini bukan hanya tentang siapa dirinya, tapi juga tentang apa artinya memiliki rumah-dan kehilangan rumah itu tanpa tahu kapan. Dalam diam, ia belajar memahami. Dalam diam, ia memilih bertahan. Dan dalam diam pula, ia akhirnya berani mencari pulang.
"Bisikan Senior di Lorong Sunyi" by apriani200
22 parts Ongoing
Namaku Amira, tapi aku lebih suka dipanggil Mira. Aku baru saja menginjakkan kaki sebagai mahasiswa baru di sebuah fakultas yang terkenal-atau lebih tepatnya, ditakuti-karena senioritasnya yang begitu kuat dan tak kenal ampun. Aku pikir setelah melewati masa PKKMB yang melelahkan itu, hidupku akan mulai berjalan normal, seperti yang kudengar dari cerita teman-teman. Tapi aku salah. Sangat salah. Keesokan harinya, saat pelajaran baru saja selesai, kami dipanggil oleh para senior. Pertemuan pertama berlangsung di dekat kolam perpustakaan yang rindang, tempat yang seharusnya menenangkan, tapi malah membuat dada ini berdebar tak karuan. Suasana terasa tenang, tapi mataku menangkap ada sesuatu yang tak biasa-sebuah bayang gelap yang mengintip di balik senyum mereka. Hari-hari berlalu, dan tempat pertemuan kami bergeser ke lorong yang sunyi dan gelap. Lorong itu seperti ruang antara dunia nyata dan mimpi buruk. Bau lembap yang tajam menusuk hidung, nyamuk beterbangan seperti bayangan yang tak pernah lelah mengawasi, dan lampu remang yang membuat setiap bayangan jadi dua kali lebih menyeramkan. Setiap kali kami dikumpulkan di situ, aku merasa seolah-olah ada mata yang mengintai dari kegelapan, membidik dan menilai. Bisikan-bisikan samar para senior, tatapan dingin yang menusuk tulang, membuatku bertanya dalam hati: apakah ini benar-benar untuk melatih mental, atau sesuatu yang jauh lebih gelap? Aku, yang tubuhnya lemah dan sering sakit, merasa terjebak di tengah tekanan yang menyesakkan. Di antara teman-temanku-Ani yang pendiam tapi kuat, Aini yang selalu cemas, Olifia yang berusaha tegar, dan Ratih yang tak pernah berhenti berharap-kami saling menggenggam tangan dan hati, mencoba menguatkan satu sama lain. "Tapi aku tahu, bisakah kami bertahan?" Bisakah kami tetap berdiri tegak saat bayang-bayang senior terus membayangi dan bisikan itu berubah menjadi ancaman? Atau akan kah kisah kami berakhir di lorong sunyi itu, di mana keberanian diuji dan ketakutan menjadi penguasa?
PERFECT BAD COUPLE (TERBIT)  by DianYustyaningsih
93 parts Complete
Beberapa detik tatapan mereka beradu. Athur menajamkan tatapan saat Milla terus menatap matanya. "Jangan berani tatap gue!" "Kenapa? Mata lo sakit?" Bukan mundur. Milla malah semakin maju. "Jangan lihat mata gue!" tegas Athur memalingkan wajah. "Oo jadi lo itu sakit mata? Atau mata lo ada beleknya ya? Dih jorok." "Diam!" Milla tersenyum menantang. Ia pindah posisi di depan Athur sehingga cewek itu semakin leluasa menatap mata Athur. Milla mempertajam penglihatan. Ia penasaran, memang ada apa di mata Athur. "Mata lo baik-baik aja. Gak merah tuh," ucapnya bak seorang dokter spesialis mata. Athur menunduk menatap mata Milla penuh amarah. "Minggir." Satu kata keluar penuh penekanan. Bukan Milla jika segera mundur saat ada hal yang menyenangkan. Milla malah semakin maju dan menatap mata beriris hitam pekat itu. "Jangan-jangan mata lo katarak ya. Atau malah mata lo punya virus menular jadi orang lain gak boleh lihat mata lo," ucap Milla bernada berlebihan. Sampai-sampai ia membelalakan mata, membuka mulut serta meletakkan kedua tangan di pipi. Emosi yang sejak tadi Athur kendalikan kini sudah di ujung tanduk. Baru kali ini ada orang yang berani menatap matanya. Bahkan sedekat ini. Apalagi baru kali ini kata-kata dingin Athur tidak mempan. Saat semua orang menunduk ketika Athur mengedarkan pandangan. Milla berbeda. Saat semua orang takut untuk berbicara dengan Athur. Milla berbeda. Dan saat semua orang diam ketika Athur berbicara. Milla berbeda. Tatapan Athur lurus pada mata Milla. "Gue akan buat lo nyesel berani tatap mata gue!" tegasnya bernada mengancam.
✓ Acting Spoiled In His Indifferent Arms   by smy018
93 parts Complete
Jika dia membuat pilihan lagi, Ji Bai tidak akan pernah membiarkan saudara perempuannya yang bermuka dua dan sakit-sakitan menggunakannya sebagai bank darah pribadi. Dia hanya ingin menjalani hidupnya sendiri. Tapi di kehidupan sebelumnya, Ji Bai akhirnya mengabaikan anak muda yang mengintimidasi itu. Ketika dia melarikan diri dari rumah sakit dalam keadaan anemia tanpa tujuan, dia pingsan di jalanan. Dia membawanya pulang, merawatnya dengan cermat dan menghargainya. Untuk malam-malam panjang yang tak terhitung jumlahnya, dia akan mencium bekas luka jelek di tulang punggungnya di mana mereka mengambil darah darinya. Bahkan setelah kematiannya, dia menjadi gila dan masuk ke pemakaman untuk mengambil tubuh es dinginnya. Kembali ke saat dia berusia 16 tahun, Ji Bai tampaknya tidak takut padanya. Ketika dia menatapnya dari sudut yang gelap dan suram, Ji Bai menatapnya dengan senyum manis. "Selama kamu bersikap, aku akan menjadi teman baikmu." Mendengar peringatan tulusnya, dia menatapnya dan tertawa dingin-- "Siapa yang mau menjadi teman baikmu?" Dia hanya ingin memeluknya. ** Sekarang dia terlahir kembali, Ji Bai ingin memberikan rasa terima kasihnya kepada Xie Sui dan mengubah nasibnya yang kasar. Tetapi remaja yang kejam itu tampaknya tidak menganggap serius peringatannya. Sampai suatu hari, Xie Sui menghentikannya dari meninggalkan kelas dan memegang tangannya dengan erat. Tubuhnya terbakar panas, dan ada senyum iblis di bibirnya. "Kamu ingin aku mendengarkanmu? Maka lebih patuhlah. "
MAGO by KiloWhiskey
20 parts Complete
Semoga cerita ini bisa dimengerti karena akan ada banyak misteri di dalamnya.. Mohon dibantu Vote, Comment & Share ya.. Tengkiuu 😁.. . . . . "Zeen.. Zeen.. Kau bisa mendengarku??" Zeen mendengar ada suara memanggil-manggil namanya, ia membuka mata dan melihat benda-benda di sekitarnya sudah sangat berbeda. Semua benda dapat melayang dan tidak membutuhkan sebuah alas untuk menopangnya. Lalu pandangan Zeen teralihkan ke sebuah layar yang sangat besar, layar itu sedang menampilkan dirinya tergeletak di brankar petugas ambulance. Sepertinya ada yang aneh, "Aku ada dimana sekarang.." Zeen mengalihkan pandangan dari layar besar itu ke arah suara yang di dengarnya. Zeen mengerutkan kening. Ada sosok bayi, bayi berambut ikal, menggunakan jubah mantel berwarna putih, berwajah imut, tubuhnya mungil, cukup menggemaskan. Ada sebuah tanda seperti tulisan kuno di dahinya (दू). Dia memiliki sepasang sayap kecil berwarna putih di punggungnya. Bayi itu membawa sebuah buku berwarna merah di tangan kanannya. Dia terbang menggunakan sayap kecilnya dan mendekat ke arah Zeen, tepatnya dia berada di depan wajah Zeen sekarang. Zeen langsung melonjak kaget, "Kau siapa? Kenapa penampilanmu sangat aneh.". Bayi itu menjawab dengan ekspresi yang sedikit kesal, "Asal kau tahu, ini bukanlah bentuk asliku. Namaku Hoppy, aku adalah Thronos Angel. Zeen mengerutkan kening, "Thanos?" "Thronos," jawab Hoppy dengan sedikit menekankan. "Itu adalah nama pangkat dari malaikat."
You may also like
Slide 1 of 9
Arshaka Heizen Lergan  cover
Dalam Diam | Hiatus cover
"Bisikan Senior di Lorong Sunyi" cover
PERFECT BAD COUPLE (TERBIT)  cover
Di Masa SMP Ku cover
✓ Acting Spoiled In His Indifferent Arms   cover
MAGO cover
Complete (END)  cover
Penuh Luka (On Going) cover

Arshaka Heizen Lergan

57 parts Ongoing

Ini tentang Arshaka Heizen Lergan. "Hidup tanpa arah itu seperti berjalan di tengah kabut tebal, ngga tahu langkah berikutnya menuju ke mana. Setiap hari terasa sama, berat dan kosong, tapi nggak ada tempat untuk berhenti atau pulang. Hal-hal yang dulu bikin bahagia sekarang cuma bayangan samar yang bahkan nggak bisa disentuh lagi." "Hidup tanpa arah itu rasanya kayak hanyut di laut tanpa tahu di mana pantai. Ada saatnya kepalaku penuh dengan suara-suara, tapi semuanya hening waktu aku coba dengarkan. Rasanya seperti tenggelam perlahan, tapi ngga ada yang datang untuk menarikku ke permukaan. Aku cuma bisa diam, menunggu sesuatu yang mungkin ngga pernah ada." ☆☆☆☆ "Gua ngga pernah minta bantuan orang lain. Kata ayah 'jadi anak jangan menyusahkan siapapun' maka dari itu. gua milih hilang ketika gua lagi kacau dan kembali lagi ketika gua merasa baik" "Gua bukannya ngga mau ngelawan, bukan juga pasrah atas kekalahan. Kata mamah 'Kalau kamu disakitin sama orang-orang, sebisa mungkin kamu jangan membalasnya ya? kalau kita baik sama orang. Besok orang juga akan baik sama kita'." ☆☆☆☆ "Hidup sama ayah emang sakit. Tapi kalau ngga sama ayah, sama siapa?" TIKTOK: @.coklattt