Anza dan Selvia adalah dua pribadi yang selalu berada dalam garis kehidupan yang sejajar. Mereka tumbuh di lingkungan yang sama-satu sekolah, satu komunitas, bahkan rumah mereka hanya terpisah beberapa blok. Namun, meski selalu beriringan dalam perjalanan hidup, takdir tak pernah mempertemukan hati mereka.
Anza adalah sosok pemuda cerdas, penuh ambisi, dan gemar menantang dirinya dengan berbagai prestasi. Di sisi lain, Selvia adalah gadis sederhana yang penuh kasih dan selalu mendukung orang-orang di sekitarnya dengan senyuman tulus. Tanpa mereka sadari, perasaan cinta tumbuh diam-diam di hati masing-masing, namun rasa takut untuk saling mendekat membuat mereka terjebak dalam kebisuan.
Hari-hari berlalu dengan kebiasaan yang sama. Anza mengamati Selvia dari jauh saat latihan paduan suara, sementara Selvia tak pernah melewatkan satu pun pertandingan basket Anza. Mereka saling tahu, saling peka, tapi seakan ada garis tak kasatmata yang membuat mereka tak pernah benar-benar bertemu.
Suatu hari, kesempatan menghampiri. Kegiatan kampus mempertemukan mereka dalam satu tim kepanitiaan. Perbincangan demi perbincangan mulai terjalin, memberi harapan bahwa mungkin, kali ini garis kehidupan mereka akan berpotongan. Namun, hidup tak pernah sesederhana itu. Muncul seorang pria baru di hidup Selvia-Arya, senior yang penuh pesona dan perhatian. Sementara itu, Anza mendapat tawaran beasiswa ke luar negeri yang sulit ditolak.
Di persimpangan antara mimpi dan cinta, Anza dan Selvia harus memilih: bertahan dengan harapan yang menggantung, atau berani mengubah arah hidup agar garis mereka bertemu.
Namun, benarkah mereka ditakdirkan untuk bersatu? Ataukah cinta mereka akan tetap seperti garis jajargenjang-selalu sejajar, tapi tak pernah bertemu?
Todos os Direitos Reservados