REKSA: The Last Bell

REKSA: The Last Bell

  • WpView
    Reads 180
  • WpVote
    Votes 4
  • WpPart
    Parts 30
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, May 3, 2025
Reksa adalah seorang remaja pendiam yang selalu merasa asing di antara keramaian. Masa lalunya dipenuhi luka yang sulit dilupakan, meninggalkan jejak trauma yang membuatnya enggan membuka diri kepada siapa pun. Baginya, dunia terasa seperti labirin tanpa pintu keluar-terjebak dalam bayang-bayang masa lalu yang menghantuinya setiap saat. Namun, segalanya mulai berubah ketika ia memasuki SMA dan bertemu dengan sekelompok teman yang perlahan mengisi celah kosong dalam hatinya. Mereka tidak hanya hadir sebagai teman sebatas kata, tetapi juga sebagai cahaya yang menerangi sisi gelap yang selama ini ia sembunyikan. Dengan perlahan, Reksa mulai menemukan keberanian untuk keluar dari cangkangnya. Ia belajar bahwa tidak semua orang akan menyakitinya, bahwa ada tangan yang siap meraih dan hati yang tulus menerima. Di tengah canda tawa, konflik, dan perjalanan emosional yang mereka lalui bersama, Reksa mulai memahami bahwa masa lalu tidak harus menjadi belenggu. Perjalanan ini bukan tentang melupakan luka, tetapi tentang menerima, berdamai, dan melangkah maju. Dan di sinilah kisahnya dimulai-tentang seorang anak yang pernah hancur, tetapi menemukan kembali dirinya di antara orang-orang yang peduli.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • KETIKA LABEL TIDAK LAGI MENENTUKAN SIAPA KITA
  • 𝑨𝑹𝑨𝑲𝑯𝑨 [TERBIT]
  • Cintaku Berawal Dari Sepatu Terbang  ( Bara )
  • Kaca yang retak
  • AKU HANYA UNTUK NAURA
  • Nathalea
  • Bayangan Orang Lain
  • RAKA
  • Aneyra -after meet you

Aline tak pernah meminta untuk dilabeli-sebagai anak pemarah, pembawa sial, atau anak dari keluarga rusak. Tapi itulah dunia: cepat menilai, lambat memahami. Di sebuah kampung kecil, Aline tumbuh dengan luka-luka tak kasat mata, dibisikkan oleh mulut-mulut tetangga, bahkan oleh orang-orang yang seharusnya melindunginya. Hingga ia bertemu dengan pintu-pintu dan jendela baru-sahabat, seorang imam, dan Nando, lelaki yang melihatnya dengan mata yang berbeda. Ini adalah kisah tentang perjuangan untuk membuka jendela hati, memecahkan cermin luka, dan menemukan pintu menuju penerimaan. Bukan hanya oleh orang lain, tapi oleh diri sendiri. Sebuah novel reflektif yang mengajak kita bertanya ulang: Siapa diriku, jika label tak lagi melekat padaku? Cocok untuk kamu yang sedang mencari makna, harapan, dan keberanian untuk berdamai dengan masa lalu..... selamat membaca (:

More details
WpActionLinkContent Guidelines