Lonceng Terakhir Janji yang Pudar [SEGERA TERBIT]

Lonceng Terakhir Janji yang Pudar [SEGERA TERBIT]

  • WpView
    Reads 459
  • WpVote
    Votes 103
  • WpPart
    Parts 21
WpMetadataReadComplete Sat, Apr 19, 2025
Zarelle, gadis yang hidup dalam sebuah trauma, dalam bayang-bayang menakutkan. Di balik senyuman yang selalu ia tunjukkan, tersimpan luka lama yang terus menghantui-rumah yang seharusnya menjadi tempat berlindung, justru menjadi tempat yang paling ia takuti. Zavien, laki-laki yang ia cintai sejak biru putih, ternyata belum selesai dengan masalalunya. Saat itu Carizell datang memberikan sandaran, memberikan janji untuk menyembuhkan traumanya. Perlahan menarik Zarelle dari dinding kokoh yang membatasi. Bagi Carizell, Zarelle gadis yang selalu ingin ia lindungi. Tapi saat lonceng terakhir berbunyi, apakah janji itu masih berarti? Apakah Zarelle akan bertahan, oleh janji yang pudar atau justru tenggelam dalam luka yang selama ini ia sembuyikan? Zarelle harus memilih: tetap tinggal dalam bayang masa lalu, atau berani melangkah menuju lembaran baru.
All Rights Reserved
#4
lapaspenulis
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Trust
  • Sherlyta
  • Elegi Rasa : Pergi
  • Move On
  • ZODIAKUS
  • Life Without You [TERBIT]
  •  HAZELA
  • SEMESTA [TERBIT]
Trust

Hidupnya indah, pada masanya. Satu masalah datang membuatnya bertransformasi menjadi dia yang lain, yang tak dikenal dan tak mau dikenal. Hidupnya berubah hitam, monoton, tak bergairah. Namun, ketika muncul setitik harapan cerah yang datang untuk membantunya kembali bangkit, hal lain muncul. Ragu itu muncul ketika harus dihadapkan pada kata percaya. Percaya untuk percaya dengan ketulusannya, atau tidak percaya karena banyak asumsi buruk yang berputar di kepalanya. Bagaimana jika ketulusan itu hanyalah kepalsuan? Ketika ia percaya, hanyalah penyesalan yang tercipta. Namun, bagaimana jika sebaliknya, ketulusan itu benar-benar sebuah ketulusan? Namun, pada kenyataannya ia masih berada di antara keduanya. Berpikir antara ya dan tidak, antara percaya dan tidak percaya. Terpaku pada garis yang sama, dengan satu ragu untuk memilih jalan yang mana. Ia tak mau salah untuk memilih. Lagi. Karena terakhir kali ia percaya, yang dipercayai mengkhianatinya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines