SENJA DI BALIK JENDELA [on going]

SENJA DI BALIK JENDELA [on going]

  • WpView
    Reads 235
  • WpVote
    Votes 35
  • WpPart
    Parts 6
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Mar 27, 2025
"Ibu... Bawa aku..." Dari luar, rumah itu tampak hangat, jendelanya selalu terbuka menghadap matahari sore. Tapi di balik tirai yang bergoyang pelan, Senja duduk diam, memandangi dunia yang terasa jauh dari genggamannya. Tak ada yang tahu apa yang tersembunyi di balik dinding rumah itu, atau mungkin, tak ada yang benar-benar ingin tahu. - 21 maret 2009
All Rights Reserved
#32
tiri
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Katanya Jadi Anak Terakhir Enak - WOONHAK [Terinspirasi dari kisah nyata]
  • Kim Sibling - Story 1 : TOD Is My Cupid
  • Shattermind [Joonghwa] ✓
  • Selimut yang Tak Cukup [SELESAI]
  • RUMAH BERATAP BOUGENVILLE
  • You Like Me? | Kim Wooseok
  • OH MY GHOST!!!!
  • 𝙄𝙧𝙧𝙚𝙥𝙡𝙖𝙘𝙚𝙖𝙗𝙡𝙚 - Sehun x Yoona ✔️
  • It's Always Been You✔️
  • My 'S'

Sejak hari itu, ayah tak pernah lagi menginjakkan kaki ke rumah. Tapi bayangannya masih menempel di tiap sudut di kursi kayu ruang makan, di seragam kerja yang masih tergantung di lemari, bahkan di kepala Wilano yang mulai sulit membedakan antara rindu dan benci. Dan suatu sore, saat langit menggantung kelabu dan gerimis turun perlahan, ledakan itu terjadi. "Gue bakal ke rumah Ayah bentar, mau ngobrol langsung," kata Rian pelan, mengambil jaketnya di gantungan. Suaranya hati-hati, tapi cukup untuk membakar emosi Seno yang sejak pagi sudah seperti bom waktu. "Ngapain lo ke sana?! LO PILIH DIA?!" Semua yang ada di ruang tengah menoleh. Suara Seno menggelegar, membuat udara di rumah seperti bergetar. Rian menoleh cepat, matanya melebar tak percaya. "Gue cuma mau bicara, Sen. Dia tetap ayah gue juga. Lo gak bisa larang gue ketemu orang yang selama ini ngerawat gue!" sahut Rian, nadanya naik. "Dia bukan ayah lo. Dia pengkhianat. Dan siapa pun yang masih mau bela dia... gak layak tinggal di sini." Suasana berubah tegang. Jaya berdiri setengah badan, siap menengahi kalau sewaktu-waktu keadaan makin memanas. Theo mengerutkan alis, tapi tetap tak banyak bicara. Wilano menatap semuanya dengan mata membesar. Dia tak mengerti, mengapa semuanya harus sejauh ini. Leon, yang sedari tadi diam, berdiri perlahan. "Kalau lo pikir begitu... gue ikut Bang Rian."

More details
WpActionLinkContent Guidelines