Tangisan Bumi [on going]

Tangisan Bumi [on going]

  • WpView
    Membaca 30
  • WpVote
    Vote 8
  • WpPart
    Bab 2
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Sen, Mar 24, 2025
"Hanya tinggal menunggu waktunya, aku akan beristirahat dengan tenang untuk selamanya." Kebahagiaan terlalu mahal untuk diri kecilku ini. Aku lelah. Jika aku mati ditanganku sendiri, maafkanlah aku ya Tuhan. Aku sudah mencoba, sungguh. Tapi dunia ini terlalu kejam bagi seorang anak dengan raga kecil sepertiku. "Jika waktu itu tiba, aku akan menyerah pada takdir, membiarkan diriku beristirahat dalam kenyamanan selamanya." Ini kisahku. Kisah seorang anak bernama Bumi yang kebahagianku berakhir bersama kedua orang tuaku, sejak itu aku tak pernah lagi mengenal kebahagiaan-hingga akhirnya, aku pun pergi, membawa luka yang tak pernah bisa sembuh. ~Bumi Askara~
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • KEENARA
  • Sudut Luka Nazea
  • Askara Amerta (Completed)
  • Full Of Scratches
  • ALL MY WOUNDS
  • Arshaka Heizen Lergan
  • Jika esok Tak Pernah Ada
  • 365 Lembar [END]
  • Di Balik senyumanku
KEENARA

••• Sedih... Marah... Dendam... Kecewa... Sakit... Itulah yang ku rasakan saat ini ketika aku di hadapkan dengan pilihan yang sangat sulit saat mengetahui kedua orang tua ku akan bercerai, tetapi apa boleh buat aku tetap harus melewatinya walaupun akhirnya aku tidak mampu untuk memilih dan akhirnya aku memilih tinggal sendiri. Perkenalkan Namaku "Arana Artakya Revalina" kalian bisa panggil aku "Arana" Umurku 18 tahun Aku adalah anak tunggal, kedua orang tua ku utuh namun rasanya seperti tidak memiliki keluarga. hingga suatu saat pada akhirnya keluarga ku benar-benar hancur. karna mereka hanya sibuk mengurusi urusan masing-masing hingga aku terlupakan. rasa kesepian sudah menjadi sahabat bagiku aku bahkan sudah terbiasa, tidak heran jika aku menggantungkan kebahagiaan dan harapan ku pada orang lain, ya aku tau ini salah namun aku pun tidak tau cara keluar dari zona merah ini bagaimana aku sudah terlalu jauh bahkan sering kali aku hancur karna harapan yang kubuat sendiri.

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan