The fatamorgana

The fatamorgana

  • WpView
    Reads 15
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Mar 24, 2025
WpInfo
Fiction
Historical
Adipati Kartanegara adalah sosok yang keras kepala dan tak kenal takut. Ia selalu mengikuti keyakinannya sendiri, bahkan jika itu berarti menentang aturan atau menghadapi bahaya. Hujan deras mengetuk jendela, sementara aroma kopi hangat memenuhi ruangan. Adipati Kusuma Atmadja duduk di kursi kayu tua, menggenggam kompas kesayangannya. Di seberangnya, Adipati Kartanegara memperhatikan setiap gerakan ayahnya. "Kau tahu, Nak," suara Kusuma terdengar pelan, "hidup ini seperti kompas. Kita selalu mencari arah, tapi angin kadang membawa kita ke jalan yang tak terduga." Adipati diam, menunggu kelanjutan kata-kata itu. Kusuma menarik napas dalam, matanya menerawang jauh. "Apa pun yang terjadi, ingat satu hal... Lindungilah orang yang kau sayang" "orang yang aku sayang?" tanya Adipati dengan nada penasaran "suatu saat nanti kau pasti akan punya seseorang yang kau sayang" ucap ayahnya © copyright Petter N. Chihiro 2025.
All Rights Reserved
#30
millitary
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Prenuptial Agreement
  • Langit & Hujan
  • YOUR EYES

"Tya, kapan kamu akan menikah?" tanya sang ayah. "Nanti, Yah, kalau sudah ada jodohnya," jawaban ringan itu yang selalu menjadi andalan Adistya. "Iya kapan?" tanya kembali ayahnya yang sepertinya tak sabar menginginkan sang putri untuk segera menikah. "Sabar kali, Yah, toh jodoh gak akan ke mana." "Jodoh memang tidak akan ke mana, tapi kalau gak ke mana-mana kapan dapat jodohnya." Kutipan itulah yang selalu ayahnya ucapkan. Membuat Adistya memutar bola matanya bosan. Ayahnya itu gemar menanyakan perihal jodohnya apalagi mengingat usianya yang sudah menginjak angka 27, usia yang sudah cukup matang untuk membina rumah tangga sampai ayahnya gemar sekali mencarikan jodoh yang untungnya tidak pernah berhasil. Adistya lelah begitupun dengan sang ayah, sampai akhirnya sebuah kesepakatan mereka buat untuk perjodohan terakhir Adistya. Kebebasan sudah ada di depan mata, tapi harapan itu harus gagal karena dengan lancangnya kepala Adistya mengangguk mengkhianati hatinya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines