Cahaya Di Ujung Pedang

Cahaya Di Ujung Pedang

  • WpView
    Reads 18,704
  • WpVote
    Votes 2,649
  • WpPart
    Parts 56
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Jul 10, 2026
Setelah kematiannya yang tragis, Zayne membuka mata... di masa lalu. Tuhan memberinya kesempatan kedua sebuah anugerah langka yang dibungkus luka dan penyesalan. Dulu, ia hanya bayangan yang dibenci. Putra dari penyihir gelap, dicap sebagai kutukan bagi Kekaisaran. Namun kini, dengan nyawa yang dipinjamkan kembali, Zayne bersumpah untuk mengubah segalanya. Menyelamatkan kakaknya, menantang takdir, dan menghapus jejak luka yang pernah ditorehkan. Tapi takdir bukan sesuatu yang mudah dilawan. Ia keras kepala, seperti pedang yang tak bisa dibengkokkan. Pertanyaannya kini bukan hanya: Mampukah ia mengubah takdir? Tapi... sanggupkah ia menanggung harga dari perubahan itu? _________________________________________ *Cerita ini hanya fiktif belaka, dan karangan semata, tak ada hubungannya dengan kehidupan nyata* _________________________________________ Happy Reading 💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚
All Rights Reserved
#63
fanfication
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  •   My Switched Daughter END
  • Transmigrasi: The Villain's Stepmother
  • GALEN PRADIPTA
  • Just let me live, Duke!
  • Sin of The Villainess
  • The Duke'S Red String
  • New life, New problems [END]
  • A Family of Villains
  • 𝐎𝐍𝐄 𝐒𝐇𝐎O𝐓🔞 •VKOOK
  • Shaenette: Skenario Kedua

Elia, gadis kecil berusia tujuh tahun, sudah dipaksa mengamen oleh ibunya sejak usia empat tahun. Hidupnya hanya dipenuhi bentakan, rasa lapar, dan malam-malam tanpa pelukan. Ia tak tahu rasanya disayang-dan perlahan, ia berhenti berharap. Sampai suatu malam, Elia tertidur dalam tangis dan terbangun di dunia novel yang pernah ia lihat di lapak buku bekas. Ia berada dalam tubuh seorang anak kecil berusia empat tahun-putri kandung dari keluarga kaya, yang ditukar oleh pembantunya sejak bayi. Akibatnya, si anak kandung justru tumbuh dalam perlakuan kejam, dikucilkan, dan dijadikan pelayan di rumah sendiri, karena keluarga aslinya tidak tahu kebenarannya. Kisah dalam novel itu berawal dari kematian sang ibu saat melahirkan, tanpa pernah tahu bahwa bayinya telah ditukar. Sementara anak kandung si pembantu, yang dibesarkan sebagai anak majikan, justru hidup penuh kasih sayang dan tumbuh menjadi anak sombong yang suka merendahkan anak pelayan-yang sebenarnya adalah darah daging keluarga itu sendiri. Di sinilah Elia berperan sebagai bayi yang tertukar-yang kini menjadi "pelayan kecil" di rumah orang tua kandungnya. Jalan takdir yang tertulis dalam novel tetap berjalan: sejak usia empat tahun, Elia (dalam tubuh baru) menerima perlakuan kasar dari perempuan yang mengaku sebagai ibunya. Baginya, asalkan bisa makan, itu sudah cukup. Ia menerima takdir barunya dengan pasrah. Kasih sayang? Ia tak berani menginginkannya lagi. Ia takut, kalau berharap... akhirnya hanya akan kecewa. Namun tanpa disadari, keluguannya, kepolosannya, tingkah lucunya, dan suara cadelnya-perlahan mulai mencuri perhatian ayah kandung dan ketiga abang yang tak pernah tahu... siapa dia sebenarnya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines