Project W/B

Project W/B

  • WpView
    LECTURAS 3
  • WpVote
    Votos 0
  • WpPart
    Partes 1
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación lun, mar 24, 2025
Konflik, Konflik tidak pernah berubah. Dari sejak sebelum zaman munculnya peradaban manusia, Konflik selalu ada. Tujuannya sama, Yaitu memperebutkan sesuatu hal, tetapi yang berbeda adalah bagaimana konflik itu, Dilakukan? Manusia pada awalnya hanya menggunakan kecerdasannya untuk bertahan hidup. Tetapi sejak peradaban manusia meluas, Insting Teritorial itu kembali meraup dasar kehidupan mereka. Dan dengan kecerdasan, mereka menciptakan Teknologi Perang. Senjata jarak dekat, Senapan, Bahkan Sesuatu yang disebut Senjata Pemusnah Masal. Tetapi Manusia tidak sampai di situ saja, mereka menemukan sebuah teknologi senjata, Tetapi sangat berbeda dan lebih kuat daripada apapun yang pernah diciptakan.
Todos los derechos reservados
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • Syal Merah
  • gate;universe
  • DESCENDANTS OF SEVENTEEN (a story can't never tell)
  • Survival: Labirin Api
  • [Rombak] -Kemunculan Planet-planet Baru di Tatasurya
  • Largest Caliber
  • Zenkai: New Z - Volume 1
  • The Scepter : Armageddon War
  • Chrono Shutdown

Lihatlah manusia.... makhluk berakal, katanya, tapi berakal hanya untuk merancang kehancuran dengan cara yang lebih efisien dari iblis manapun. Mereka lahir dengan tangan kosong, namun tumbuh dengan jemari yang tak pernah cukup menggenggam. Satu takhta tak cukup, satu negeri terlalu sempit, satu nyawa tak sebanding dengan harga ambisi. Mereka mencipta Tuhan dari kaca dan bayangan, lalu menjadikannya alasan untuk menyalakan api di rumah sesamanya. Lalu, ketika tubuh hangus terbakar, mereka berkata: "Ini takdir, ini suci." Padahal semua hanya siasat licik, untuk menjarah lebih banyak, menguasai lebih dalam. Di medan perang, tidak ada musuh sejati, hanya cermin-cermin retak yang saling menuduh bayangan masing-masing sebagai setan. Manusia menanam senyum di bibir diplomasi, sementara tangannya menandatangani pengiriman peluru ke tempat di mana anak-anak belajar menyebut "ayah". Dan ketika tanah itu retak oleh ledakan, dan langit pun tak sudi menurunkan hujan, mereka berkumpul di ruang rapat ber-AC, membahas damai yang bisa dijual dengan harga saham. Oh, manusia bukan makhluk sosial- mereka makhluk serigala yang diajari mengenakan jas. Mereka berdiri di atas kuburan sambil berkata: "Semua demi kemajuan." Apa makna "maju", jika harus melangkahi mayat? Apa artinya "kebebasan", jika harus dipaksa dengan moncong senjata? Mereka mencipta kata-kata indah- "perjuangan", "nasionalisme", "pengorbanan", tapi semuanya hanya selimut untuk menutupi nafsu kekuasaan yang menjijikkan. Sejatinya, manusia mencintai kehancuran- sebab di puing-puing itu, mereka bisa membangun kerajaan atas nama harapan, padahal fondasinya dari daging dan darah. Tak ada yang suci dalam perang. Tak ada yang heroik dalam membunuh. Yang ada hanyalah manusia- yang selalu lapar, selalu haus, selalu ingin menjadi Tuhan tanpa pernah bisa menjadi manusia,.

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido