Air Mata Istanbul

Air Mata Istanbul

  • WpView
    Reads 145
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 11
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Mar 30, 2025
Aku tumbuh bersama kota ini-dari kejayaan Kekhilafahan hingga saat panji-panji terakhirnya diturunkan. Dulu, suara azan menggema tanpa ragu, para ulama dihormati, dan kisah kejayaan diceritakan dengan penuh kebanggaan. Tapi perlahan, semuanya berubah. Ketika suara azan yang dulu menggetarkan hati mulai asing di telingaku, aku bertanya-tanya-apa yang sebenarnya telah hilang dari kami? Dari jalanan Fatih hingga lorong-lorong Istana, dari pelajaran di mektep hingga teriakan di alun-alun, aku menyaksikan orang-orang yang meneriakkan kebebasan sekaligus meruntuhkan tempat berpijak mereka sendiri. Ketika hukum-hukum yang dianggap usang digantikan, dan tanah kelahiranku tak lagi terasa seperti rumah, aku mulai bertanya-apakah ini harga dari kemajuan, ataukah kita sedang kehilangan sesuatu yang lebih berharga? Ini adalah kisah Istanbul yang menangis, dan aku, tumbuh bersama air matanya.
All Rights Reserved
#184
fiksisejarah
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • FAITH
  • SUGAR SUGAR LOVE (TAMAT)
  • Langkahku Sampai Istanbul
  • Write the story with you
  • GARIZAH JAUZA (END)
  • ✔️Become The Main Character's Sister : Transmigration Story
  • Cinta Dalam Do'a {SELESAI}
  • Transmigrasi Queen Amoora [ END ]
  • Langit Langit Damaskus Bersaksi
  • The Golden Age
FAITH

Tentang aku dan masa laluku yang belum usai, atau bahkan tentang takdirku yang belum juga ku temukan, ini kisahku. [FAITH] ーーーーーーーーーーーーーーーー Aku bergeming menatap tumpukan kertas kerja dan mengeryutkan bibir mengingat bibir tipisnya dengan suara sedikit tertahan mengucap salam. Jantungku berdegup semakin kencang bahkan tak mampu kutatap matanya. [LANGIT] *** SEMARANG Bukan karena pesona Ungaran yang membuat kami mendakinya hampir setiap liburan. Atau tahu gimbal lezat yang kami santap setiap habis rapat. Lebih dari itu kota ini membuat kami seperti dua kutub magnet yang saling menarik.

More details
WpActionLinkContent Guidelines