Pada tahun 1942-1945, banyak warga Belanda menjadi korban kekejaman militer Jepang. Demi melindungi keluarga mereka, keluarga De Djongè terpaksa menikahkan putra tunggal mereka, Jonkheer Jan-Hendrik De Djongè, dengan seorang bangsawan Jawa yang tak disangka juga memiliki putra tunggal, Radèn Mas Djoatmiko Saproeto Diningrat.
Pernikahan ini bukanlah atas dasar cinta, melainkan paksaan. Keluarga De Djongè berharap pernikahan ini dapat memberikan perlindungan dari ancaman tentara Jepang.
Namun, bagaimana mereka menghadapi pernikahan yang terpaksa ini?
............................................................
Kembali lagi dengan cerita yang aga nyeleneh karena outhor nya juga aga nyeleneh, seperti namanya penulis aneh, maka dari itu cerita ini hanya sebuah cerita yang di ciptakan oleh otak anehnya yang sedang bertapa di kamar mandi, maka stay tune aja dan jangan lupa vote, comment and follow, sekian dan terima kasih....
salam dari yang aneh...
Lahir di keluarga yang terpandang mungkin akan mengira semua yang diinginkan akan dapat dimiliki hanya dengan menggunakan privilege. Namun, memiliki keluarga populer tidak mesti tentang keuntungan dan kemudahan tapi juga tentang petarungan, perjuangan dan kebebasan.
Menjadi cucu dari seorang Gihandaroe tidak membuat keenam putra mahkota itu tunduk. Karena, mereka akan selalu mencari jati diri sendiri tentang makna keluarga dan ketulusan. Tanpa memandang nama belakang yang sudah disematkan sejak mereka lahir.
Keluarga tetap nomor satu. Apapun yang terjadi didepan mereka, hanya keluargalah tempat pulang paling nyaman dan aman. Walaupun, dibalik itu pasti ada sebuah luka yang harus mereka sembunyikan san mencoba menyembuhkan sendiri.
cover from Canva.