Di balik senyumnya yang hangat, ada luka yang tak terhitung jumlahnya. Gadis itu menyukai laut, senja, dan hujan-tiga hal yang selalu memberinya pelukan ketika dunia terasa terlalu kejam. Setiap kali hujan turun, ia akan menari di bawah derasnya air, membiarkan luka yang ia pendam luruh bersama tetesan hujan. Namun, sekeras apa pun ia bertahan, takdir seolah tak pernah berpihak padanya.
Sejak kecil, ia menjadi samsak amukan sang ayah-laki-laki yang tak pernah bisa menerima kematian istrinya. Baginya, gadis itu adalah penyebab kehancuran. Dan kini, ketika gadis itu mulai berpikir bahwa ia bisa bertahan, kenyataan kembali menamparnya: gagal ginjal stadium akhir. Hidupnya tak lagi berada di tangannya sendiri.
Di tengah kehancurannya, ia bertemu dengannya-laki-laki pemilik mata elang, keras, dingin, dan sulit ditaklukkan. Anak dari keluarga terpandang, namun menyimpan luka yang tak kalah dalam. Di balik tatapannya yang tajam, ada badai yang bisa meledak kapan saja-bipolar yang mengikatnya dalam pertarungan tanpa akhir dengan dirinya sendiri.
Mereka saling mengenal, saling menyembuhkan, dan saling jatuh cinta dalam diam. Gadis itu menuliskan setiap detik hidupnya dalam diary, mengabadikan luka, harapan, dan perasaannya. Hingga di suatu titik, laki-laki itu membuat keputusan terbesar dalam hidupnya-mendonorkan ginjalnya untuk sang gadis.
Sebuah surat ia titipkan, berisi kisah pertama kali ia jatuh cinta, janji yang ingin ia tepati, dan harapan kecil untuk masa depan yang tak pernah bisa mereka genggam. Karena saat gadis itu berjuang di meja operasi, laki-laki itu melangkah menuju lautan-tugas pertamanya sebagai seorang prajurit TNI AL.
Namun, laut tidak hanya memberinya kebebasan. Laut juga merenggutnya.
Cinta mereka berakhir sebelum sempat dimulai. Dan gadis itu hanya bisa membaca surat terakhirnya, dengan ginjal laki-laki itu kini berdetak dalam tubuhnya-sebuah bukti bahwa cinta mereka akan selalu hidup, meski hanya dalam luka dan kenangan.
All Rights Reserved