Obliviora [HIATUS]

Obliviora [HIATUS]

  • WpView
    Reads 2,457
  • WpVote
    Votes 1,068
  • WpPart
    Parts 15
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Jul 6, 2025
Dua detektif, Theo dan Lheo, menjadi korban eksperimen brutal seorang profesor gila. Disiksa hingga mental mereka hancur, dipaksa menanggung penderitaan yang tak terbayangkan, lalu dibiarkan sekarat-namun tidak pernah benar-benar mati. Jiwa mereka dibekukan, terperangkap dalam koma tanpa akhir. Mereka pikir itu adalah akhir dari segala derita. Tapi justru di sanalah mimpi buruk sesungguhnya dimulai. Dalam kegelapan antara hidup dan mati, muncul sosok misterius yang mengungkap rahasia yang lebih mengerikan dari eksperimen itu sendiri: kutukan keabadian. Kebebasan untuk mati telah dirampas dari mereka. Kini, Theo dan Lheo terlempar ke dunia buatan Sang Dewa Pencipta, tempat para jiwa koma dijadikan pion dalam permainan tanpa ujung. Tanpa mengetahui hubungan mereka dikehidupan sebelumnya, mereka bertemu dan memulai perjalanan yang akan mengubah dunia.
All Rights Reserved
#1000
menegangkan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • DEVOTEE DEVIL {END} ✓
  • Elementer's (END)
  • WIZARD (Broken Butterfly) END
  • The Mist Embracing Eye「SLOW UPDATE」
  • Princess Of Magic World [END]
  • WHISPERS IN THE DARK
  • mylize magic

"Wahai penguasa kegelapan, lindungilah kami dari petaka yang kau hadirkan." Daniel Davicky kehilangan cahaya kehidupannya tepat setelah kematian sang ibunda. Bagai seorang tuna netra, ia tak mampu lagi menelaah seisi dunia. Gelap gulita, sampai sebuah tarikan membawanya ke dunia yang lebih gelap lagi. Namun, ada kobaran api yang menjadi sinar menerangi naluri. "Malaikat Agung, Malaikat Kegelapan Pinjamkan lah aku cahayamu Melalui tabir Kematian Hingga Surga terlihat!" Dendam, dengki, caci maki, dan segala hal keji menjadi racun menggerogoti diri. Sudah lumrah sebagai makanan sehari-hari. Sosok penolong sudah pun berganti. Kala mentari terbit di timur, disitulah ia menggemakan syukur. Bukan pada sosok sang maha, melainkan pada sosok penguasa. "Ketika dunia memberi penderitaan, kenapa harus berlutut memohon belas kasihan? Bangkitlah, lakukan segala yang ingin kau lakukan. Disini tak ada keadilan, maka tegakan keadilan dalam kegelapan."

More details
WpActionLinkContent Guidelines