Lee Minho sudah terbiasa hidup dalam keheningan. Ia tumbuh dengan buku, rutinitas, dan dinding-dinding tak kasat mata yang ia bangun sendiri. Di sekolah, dia dikenal pendiam, dingin, dan susah didekati dan Minho suka seperti itu. Dunia terasa lebih tenang saat tidak ada yang mencoba masuk.
Sampai Han Jisung datang.
Anak baru dengan suara yang gak pernah bisa pelan, tawa yang tulus, dan semangat yang kayak gak pernah habis. Jisung ceria, penuh warna, dan terlalu rame, semua yang Minho hindari. Tapi entah kenapa, anak itu duduk di bangku sebelahnya dan gak pernah berhenti ngajak ngomong.
Awalnya Minho cuek. Ilfeel. Jisung dianggap cuma "sok akrab" dan "gak tahu batas". Tapi hari demi hari, suara itu mulai jadi satu-satunya hal yang bisa Minho ingat setelah pulang sekolah. Senyum itu pelan-pelan mulai menembus dindingnya.
Dalam diamnya, Minho mulai memperhatikan.
Dalam keramaian Jisung, ada kehangatan yang selama ini gak pernah Minho tahu ia butuhkan.
Dan tanpa sadar, Jisung mulai mengubah hidup Minho, bukan dengan paksaan, tapi dengan kehadiran yang konstan. Dengan cara sederhana, tapi tulus.
Ini bukan cerita tentang cinta pada pandangan pertama. Ini tentang dua orang yang bertolak belakang, duduk berdampingan, dan perlahan-lahan menemukan rumah di satu sama lain.
Todos os Direitos Reservados