Bukan Salah Hutan [On Going]

Bukan Salah Hutan [On Going]

  • WpView
    Reads 178
  • WpVote
    Votes 79
  • WpPart
    Parts 20
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, May 21, 2025
"Orang-Orang Takut pada Hutan, Tapi Aku Takut pada Mereka" Ironis, karena yang sebenarnya menakutkan bukanlah hutan, tapi manusia yang menghakimi. "Jangan main sama dia, nanti kita dibawa ke hutan." "Iya, nanti diculik hantu pohon!" "Anak aneh." "Tarzan." "Katanya kamu sering ngomong sama monyet, ya?" "Suka banget ke hutan? Rumahnya di hutan ya? Ahahaha, Tarzan!" Naka tumbuh di antara bisikan dan ejekan. Hutan yang bagi orang lain hanya sekumpulan pohon, baginya adalah rumah kedua. Tempat yang lebih bisa ia pahami dibanding manusia. Tapi benarkah ia sekadar anak aneh yang tak bisa berbaur? Atau justru mereka yang tak pernah benar-benar melihat? Suatu hari, ada seseorang yang bertanya dengan mata berbinar, bukan dengan tawa mengejek- "Keren! Kau bisa ngomong sama monyet? Aku dulu cuma sama kucing, tapi kau sama monyet? Luar biasa!" Mungkin, dunia ini tak sepenuhnya sesempit yang ia kira. Maret 2025
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Doctor Lil-Daddy [END]
  • Disguise... [END]
  • Hutan Terlarang [END]
  • Meneroka Jiwa 2
  • Kau Rumahku
  • KITA DAN SEMESTA
  • Lukisan Amerta Anyura
  • Don't Be A Stranger [END]
  • Love My Enemy
  • Arshaka Heizen Lergan

Kebencian, trauma, dan kesedihan yang mendalam itulah yang memicu dan menjadikan dirinya seperti seorang monster. Tak taukah kau, mulutmu itu begitu tajam ketika kau memakinya dengan seenak hatimu hingga membuatnya semakin hancur? Dia kesakitan, sedih, marah, kecewa, depresi dan trauma lantaran penyiksaan demi penyiksaan yang menyakitkan, penghianatan cinta yang tragis, hinaan cercaan makian yang menyayat hati, bahkan pemerkosaan begitu mengerikan yang telah merengut secercah harapanya untuk hidup bahagia. Tidakkah kau dengarkan tangisan pilunya? Tidakkah kau dengarkan teriakanya yang menyayat hati itu? Atau kau pura pura tuli karena keegoisanmu? Bagaimana bisa kau tertawa dan mencerca, dan menghakiminya selayaknya manusia hina tanpa sudi mengenal dan mengetahui apa yang terjadi padanya. Kau pikir kau siapa? "Dia monster kamar 23, dan dia pembunuh"

More details
WpActionLinkContent Guidelines