⚠ Trigger Warning: Kisah ini terinspirasi dari realitas, sebagian di antaranya adalah pengalaman pribadi penulis. Jika kamu pernah merasa terbebani oleh ekspektasi dunia, bacalah dengan hati-hati.
---
Dania, anak pertama yang sejak kecil dipaksa menjadi sempurna. Dalam setiap keadaan, ia harus bisa segalanya menjadi contoh bagi adiknya, penolong bagi orang tuanya, dan sandaran bagi semua orang di sekitarnya. Tidak ada ruang untuk lelah, apalagi gagal.
Namun, di balik senyumnya yang tegar, ada hati yang rapuh. Ia lelah menjadi seseorang yang harus selalu kuat. Ia ingin, sekali saja, ada yang berkata, "Tak apa jika kau tak bisa." Tapi dunia tidak memberinya pilihan. Dania harus tetap berdiri, bahkan saat hatinya ingin menyerah.
Kisah ini bukan sekadar fiksi. Sebagian dari cerita ini adalah cerminan dari perjalanan pribadi penulis tentang bagaimana rasanya tumbuh dengan beban tak terlihat, tentang mencari makna di tengah tuntutan, dan tentang harapan bahwa suatu hari, seseorang akan berkata, "Aku melihatmu. Aku mengerti."
Hidup tak pernah benar-benar bisa ditebak. Kadang, harapan yang dibangun sejak kecil hancur seketika oleh kenyataan yang tak diundang.
Narthana adalah anak laki-laki yang tumbuh dengan cinta dan impian besar. Sejak kecil, ia percaya bahwa keluarganya adalah rumah paling aman di dunia-tempat di mana Papa dan Mama akan selalu ada, menggenggam tangannya hingga dewasa nanti. Ia pernah berkata, suatu hari nanti, ia akan membawa kedua orang tuanya keliling dunia, naik pesawat besar miliknya sendiri. Tapi hidup tak pernah bertanya apakah kita siap kehilangan.
Ketika kenyataan mengguncang fondasi kebahagiaannya, Narthana dipaksa tumbuh dalam sunyi. Ia harus menelan pahitnya perpisahan yang tak bisa dilawan, dan memeluk luka yang tak bisa dipulihkan waktu.
"Mulai hari ini, Nana bersama Papa, ya?"
Kalimat yang sederhana, tapi menyimpan beban yang tak terucapkan.
Ini adalah kisah tentang kehilangan, tentang janji yang tak selalu bisa ditepati, dan tentang bagaimana seorang anak belajar menerima takdir tanpa kehilangan jiwanya. Sebuah perjalanan yang mengajarkan bahwa hidup tak selalu tentang memiliki, tapi tentang bagaimana tetap mencintai-meski dari kejauhan.
Sebab Tuhan menulis kisah setiap manusia dengan cara yang berbeda, dan setiap air mata menyimpan makna yang tak pernah sia-sia.