"Jika aku tersenyum, apakah itu aku atau dia? Jika aku menangis, siapa yang sebenarnya terluka? Jika aku menghilang... apakah ada yang peduli siapa yang pergi?"
Saka hidup di dunia yang terus mengusirnya. Ibu kandungnya meninggal saat hari ulang tahunnya, ayah kandungnya membenci keberadaannya, dan rumah yang seharusnya menjadi tempat berlindung malah terasa lebih dingin dari angin malam. Ibu tiri dan adik kandungnya mencampakkannya, menatapnya seolah dia bukan bagian dari keluarga.
Di sekolah, dia adalah murid terpintar, ranking satu, kebanggaan para guru. Tapi tak ada yang peduli pada tubuhnya yang makin melemah, darah yang perlahan mengkhianatinya, atau luka-luka yang tersembunyi di balik seragam. Mereka hanya melihat anak culun yang terlalu lemah untuk melawan saat diinjak-injak.
Namun, diantara semua orang yang membencinya, ada satu orang yang selalu berada di sisinya-Rania, kakak tirinya. Seorang mahasiswa psikologi yang memahami luka-luka yang tidak bisa dilihat mata. Rania satu-satunya yang menyadari bahwa Saka dibully di sekolah, tapi tidak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi di rumah. dia tidak tahu bahwa luka Saka lebih dari sekadar ejekan dan pukulan teman-temannya. Dia tidak tahu bahwa setiap pulang sekolah, Saka harus menghadapi tangan ayahnya yang terangkat tinggi, lebih menyakitkan dari semua hinaan yang pernah dia dengar.
Tapi di dalam kepalanya, juga ada seseorang-seseorang yang kuat, yang tak takut melawan, yang siap mengambil alih kapan saja.
Sampai kapan dia bisa bertahan? Sampai kapan dia bisa menahan 'dia' yang lain agar tetap terkunci? Karena semakin lama, suara itu semakin keras... dan dia mulai bertanya-tanya
"Jika suatu hari aku membuka mata dan bukan lagi aku yang mengendalikan tubuh ini... akankah Tuhan masih mengenal siapa aku sebenarnya?"
Alle Rechte vorbehalten