Petals and Promises

Petals and Promises

  • WpView
    Reads 39
  • WpVote
    Votes 7
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Apr 5, 2025
Di sebuah kota yang selalu diselimuti semerbak wangi bunga, kisah cinta tumbuh diam-diam seperti kelopak yang mekar saat fajar. "Petals and Promises" mengisahkan tentang beberapa hati yang saling bersinggungan-tentang janji yang diucap pelan, tentang rasa yang terpendam di balik senyum, dan tentang luka yang tersembunyi di antara tawa. Ada mereka yang jatuh cinta tanpa sengaja. Ada yang masih menunggu seseorang dari masa lalu. Ada juga yang bertemu di tengah keributan dunia, lalu saling menyembuhkan luka yang tak pernah diceritakan. Di antara bunga-bunga yang berguguran, rahasia dan janji kecil terajut menjadi satu cerita besar-bahwa cinta, seperti kelopak, bisa mekar... bisa layu... tapi selalu meninggalkan jejak. Karena di setiap kelopak yang jatuh, ada janji yang belum sempat terpenuhi.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • After You, The Rain Felt Different
  • Antara Aksara dan Kata
  • Enemies in Flames
  • Jasmine Blooms Between Us
  • Lintasan Waktu di Sekolah
  • Senja Diantara Dua Langit
  • Langit Tak Bertemu Bumi
  • Cahaya dalam kegelapan
  • CAHAYA  YANG MASIH TERTAUT PADA BINTANG

"prolog" Aku selalu percaya, setiap hujan punya kenangan. Dan Bandung... menyimpan kita di antara rintiknya. Dulu, kita pernah berjalan di jalan yang sama. Saling genggam tangan, saling percaya bahwa kita akan bertahan meski apa pun yang terjadi. Tapi waktu, entah kenapa, pelan-pelan mengubah semuanya. Bukan karena kita berhenti mencinta, tapi karena kita berhenti saling memahami. Kita tumbuh... dan entah sejak kapan, kita juga menjauh. Aku masih ingat, kamu yang dulu suka nyore di taman sambil dengerin lagu-lagu mellow, bilang hujan bikin kamu tenang. Sementara aku, cuma bisa duduk diam di sebelahmu, berharap kamu nggak sadar kalau aku selalu ngeliatin kamu lebih lama dari seharusnya. Semuanya indah-sampai kita salah paham. Sampai kata-kata jadi senjata, dan cinta jadi luka. Sekarang, setelah waktu memisahkan kita, aku cuma bisa bertanya dalam hati: Kalau kita dulu sedekat itu... kenapa akhirnya kita jadi dua orang asing di kota yang sama?

More details
WpActionLinkContent Guidelines